Senin, 26 Agustus 2013

MIRRORS Chap 8

Title : “MIRRORS” Chap 15


Choi Minho SHINee | Choi Sulli F(X) | Kwon Yuri SNSD | SHINee Genk | Amber Liu F(X)
 
 Author : Davina Sandy

Length : Chaptered

Rating : PG-15

Genre: comedy, romance, hurt


 “Hyung! Apa yang kau lakukan?! Kenapa hanya diam? Kejar Sulli hyung!” Taemin meneriaki Minho tepat di depan kupingnya. Namun Minho tak beranjak dari posisinya. Ia layaknya patung es yang membeku. Diam, menatap kepergian Sulli dan punggung Sulli yang perlahan menghilang di balik gelap dan dinginnya malam.







Bibir ungunya akhirnya membuka dan mengeluarkan suara serak dan bergetar “Percuma... dia takkan pernah kembali.”








“Mwo?! Hyung! Apa yang barusan kau katakan? Ini bukan dirimu!” Taemin gusar, ia tak habis pikir Minho tak berniat mengejar Sulli yang sudah pergi entah kemana. “Hyung seharusnya kita men...”



GREP. Sebuah cengkraman keras di pundak Taemin memutuskan ucapannya. Kini Jonghyun sudah melempar tatapan tegas padanya. “Wae? Kenapa kau berteriak? apa yang terjadi?”







 Taemin terdiam melihat tatapan itu. Tatapan Jonghyun saat serius mampu membuat siapa saja ikut masuk dalam keseriusan itu. “Jonghyun-hyung! Sulli mengetahui semuanya. Tentang taruhan itu ! Dia berlari dan pergi. Lihatlah, Minho-hyung hanya diam saja.” Sebenarnya, Taemin ingin mengejar Sulli sendirian. Namun mengingat ia juga ikut serta dalam taruhan itu,setidaknya ia harus mengejar Sulli bersama Minho dan menjelaskan bersama.







Jonghyun kini memperhatikan Minho yang masih menatap jalan dimana Sulli berlari dan pergi meninggalkannya. Tatapan Minho kosong dan meredup, Jjong tahu persis apa yang sedang Minho pikirkan sekarang.



“Jangan paksa dia. Taemin, panggil Key dan mintalah bantuannya menemukan Sulli. Diantara kita Hanya Key yang paling dekat dengan Sulli dan Eonni-nya. Palli.”



“Ne hyung.” Taemin segera berlari melewati gerbang  dan memasuki rumah untuk meminta bantuan Key.



Mata Jonghyun kini beralih menatap Yuri yang ikut kebingungan dengan kejadian ini. Ia merasa puas, namun di sisi lain ia khawatir melihat keadaan Minho yang hanya diam mematung tanpa bicara menatap kepergian Sulli.



“Yuri-Ssi... apa ini ulahmu lagi?”



“Maksudmu? Pikirlah, ini juga salah kalian. Buat apa melakukan taruhan jika tidak ingin menerima resikonya?”



Jonghyun merasa perkataan Yuri ada benarnya. “Geure...  aku mengakui, ini juga kesalahan kami semua. Dan sekarang Yuri-Ssi, apa kau puas? Puas melihat yeoja itu pergi? Puas melihat namja yang kau cintai meratapi kepergian orang yang dicintainya?”



“....”



“Jika kau benar2 mencintai Minho seharusnya kau tahu apa yang terbaik untuknya.”







Minho tidak mendengarkan apapun. Ia tidak mendengar ocehan2 Yuri, Jjong,dan Taemin. Itu hanya terdengar layaknya gaung tanpa makna di telinganya. Ia hanya terus menatap jalan lengang itu. Mungkin keajaiban menyeret Sulli kembali, Entah dengan rela hati, atau secara paksa.



Jalan yang di tatapnya sedari tadi masih sunyi, tak menandakan dewi cinta menuntun Sulli kembali kepadanya. Hanya satu masalah yang Minho hadapi sekarang, kakinya menjadi lemah dan tak bisa ia gerakkan. Sulli takkan kembali, juga takkan terkejar.







BRUK.



Lutut Minho ambruk ke tanah beraspal dengan keras. Tungkainya tak mampu menahan beban badannya lagi. Minho merasa paru2nya tak mampu bekerja dengan baik lagi. Seolah ia telah berlari ratusan meter untuk mengejar Sulli. Jong terkejut dan dengan segera menghampiri Minho dan menopang badan Minho yang juga akan tersungkur ke tanah menyusul lututnya.





“Minho-ya! masuk ke dalam kajja.”



“Hyung... dia tidak akan terkejar. Dia juga takkan kembali. Aku ditinggalkan.”



“Minho-ya... Be calm down. Semuanya akan baik2 saja.”



Minho menatap kembali jalan lurus itu, sebuah memori terulang lagi. Di jalan yang lurus dan sepi seperti ini, eommanya meninggalkannya sendiri.







MINHO’S FLASHBACK



Sudah larut malam, namun rumah kecil itu dipenuhi suara2 bising.



Minho kecil berlari memasuki kamar eomma dan appa-nya. Ia membuka tas yang berisi penuh oleh pakaian yang  sedari tadi sudah eomma-nya siapkan. Minho menghambur pakaian yang telah tersusun rapi itu dan melemparnya ke sembarang arah hingga tercerai berai ke lantai dan ke ranjang, berantakan dan kacau.







“Minho-ya!!! apa yang kau lakukan?!” eomma Minho mendorong Minho menyingkir dari sisi ranjang hingga Minho terjatuh ke lantai.



“eomma tidak boleh pergi! Andwe!!” pekik Minho melengking hingga membuat kening appa Minho yang lemah terbaring di atas ranjang berkerut. Appa Minho yang saat itu sedang sakit keras terbatuk-batuk sehingga menambah bunyi keributan di kamar itu.







Eomma Minho memasukkan kembali baju2 yang sudah Minho porak-porandakan  itu ke dalam tasnya dengan sembarang. “eomma pasti kembali Minho ya!” eomma Minho menjinjing tasnya dan dengan terburu-buru keluar dari rumah meninggalkan Minho dan appanya yang kebingungan harus melakukan apa.







“Minho-ya... Uhuk... sudah, jangan paksa eomma-mu. Kau dengarkan? Ia pasti kembali. Kau cukup mendengarkannya arachi?”



“appa! Eomma akan pergi bersam pria tampan itu! Dia akan meninggalkan kita appa! Aku tidak akan membiarkannya pergi!” Minho belum menyerah. Ia berlari mengejar eommanya yang sudah menghilang dari dalam rumah.



Minho mengedarkan pandangannya ke seluruh halaman dan menemukan sosok eomma-nya yang sedang menghampiri sebuah mobil silver  yang terparkir di depan pagar. Seorang ahjussi tampan dengan setelan jas putih keluar dari pintu mobil menyambut kehadiran eomma-nya dengan pelukan dan ciuman panas.







DEG! Rasa panas menyelimuti isi kepala Minho, tatapannya mengabur karena embun sudah menutupi matanya. Embun dari Air mata yang terus ia tahan untuk keluar.  “eomma... a-andwe, apapun yang terjadi, eomma tidak bisa meninggalkan kami begitu saja!!!” Pekik Minho nyaring sehingga membuat keduanya menghentikan kegiatan itu dan segera masuk ke dalam Mobil.







Minho tidak tinggal diam ia menghampiri mobil itu, namun terlambat. Saat Minho sudah dekat, pengemudi mobil silver tersebut sudah menginjak pedal gasnya. Minho belum menyerah, ia mengejar mobil yang melaju dengan kedua kaki kecilnya.







“eomma!! Eomma!! Jangan pergi!! Jeball!!” tangan Minho terus melambai-lambai tak henti, berharap eommanya menoleh sedikit saja, melihat betapa putranya mengingnkannya untuk kembali.




nafas Minho sudah pada batasnya. Kaki2 kecilnya serasa mati, ia sudah tak bertenaga lagi untuk terus berlari. Namun air mata yang terus menetes menandakan ia tak ingin berhenti mengejar. Ia tak ingin eommanya pergi meninggalkan appa-nya yang sakit keras. Tidak boleh! 




Minho terus memaksa kakinya untuk terus bergerak dengan cepat,hingga salah satu kakinya menyenggol kaki lainnya(?)  Minhopun terlempar dan mendarat dengan keras di tanah beraspal. Dadanya berdentum menghempas tanah. Sangat sakit, ia sudah tak mampu bergerak lagi.







Minho masih terbaring lemah di permukaan aspal, mengatur nafasnya yang sudah kacau. Tenggorokannya kering kerontang, hatinya perih. Si kecil Minho benar2 dalam keadaan buruk. “Eomma jahat. Jahat!” Minho melepaskan semua rasa sakit hatinya malam itu. Ia meringkuk dan menahan rasa dingin yang menusuk hingga ke tulang-belulangnya.

 Mungkin berharap ada kendaraan yang melau kencang dan menindas badan kecilnya. Minho tidak peduli ia mati sekarang hingga sebuah telapak tangan terulur di hadapan wajahnya yang sudah memerah karena tangisan dan air mata.





Minho mendongakkan kepalanya yang terasa sangat berat  mencoba mneyelidiki siapa pemilik telapak tangan itu. Seorang anak kecil seumurannya tengah menatapnya dengan cemas. Anak itu ngos-ngosan  “Aku tetangga barumu. Aku melihatmu berlari dan mengikutimu sampai kesini.”




“....” Minho diam tak menjawab masih mengumpulkan konsentrasinya.



“Jonghyun Imnida.  Gwenchana? Aku akan membantumu.”







FLASHBACK END







“Minho-ya... be calm down. Semuanya akan baik2 saja.”







Seperti memori lama yang terulang kembali di dalam kehidupan nyata, Jonghyun masih selalu ada di sisinya. wajah cemas ini, pertama kali dilihatnya saat Jong menemukannya terkapar di tengah jalan sunyi di malam gelap.



 Sejak saat itu jonghun selalu ada untuk membantunya. Appa jong sangat baik dan membantu pengobatan appa Minho hingga appanya sembuh dan mendapat pekerjaan lagi.



Minho tersenyum getir menatap wajah cemas Jonghyun.  “Gomawo hyung... kau selalu baik.. selalu baik padaku.”







“Minho-ya...” suara namja lain membuat Minho dan Jonghyun menoleh pada namja berambut pirang necis itu. “Aku akan mengejarnya. Jangan khawatir ne...”



“Chamkaman...”



“Wae Minho?”



“Tentang Sulli... dia bisa saja ikut membencimu karena taruhan ini. soal itu, katakan apapun agar dia bersedia ikut denganmu. Antar dia pulang dan jelaskan pada Amber semua ini. jelaskan kalau akulah dalangnya, kalau aku yang membuat taruhan ini. dan jelaskan kalian juga terpaksa mengikuti taruhan ini. arachi?”




Key terhenyuh mendengar namja bermata bulat dengan pipinya yang sudah basah oleh air mata  itu berbicara dengannya. Minho rela disalahkan asal keadaan kembali membaik seperti semula.







****



Sulli terus berlari. Sepatu hak tingginya tak lagi ia kenakan. Air mata terus mengalir di pipinya yang memerah dan tak dipedulikannya tubuhnya yang sudah letih.




Derap nafas Sulli menjadi sangat cepat. ia sudah berlari dengan sangat cepat dan jauh. Sekarang ia bahkan tidak tahu ia ada dimana. Keringat terus menetes dari pelipisnya yang sudah basah.  Beruntung, ia menemukan sebuah bangku panjang di sisi jalan. Ia mendudukan dirinya disana, melepas lelah yang ia tanggung selama ia terus berlari.





Sulli mendongakkan kepalanya ke langit menatap pendaran cahaya bulan yang menemaninya duduk sendirian di tepi jalan. “hahaha... aigoo! Sudah lama aku tidak berlari sekencang tadi!” Sulli meluruskan kakinya untuk melepas penat dan denyut yang menusuk-nusuk di telapak kakinya yang tanpa alas. Ia menatap lurus jalan beraspal yang sudah ia tempuh, tak ada tanda2 seseorang sedang mengejarnya.





Sekali lagi, air mata Sulli menetes membasahi pipi putihnya. Entah apa yang ia rasakan sekarang. Ia sangat merasa marah dan sedih namun di sisi lain ia bahagia. “syukurlah, ternyata oppa tidak mengidap tumor. Bahkan tumor ringan sekalipun.” Sulli memeluk lututnya dan menangis lagi. ‘Minho oppa... tidakkah kau ingin mengejarku?’ gumamnya dalam hati. Sulli memeluk dirinya sendiri erat, mencoba menghilangkan rasa dingin yang menampar permukaan kulitnya yang basah karena keringat.





Sebuah mobil sport Kuning berhenti tepat di depan Sulli. Seseorang keluar dan menutup pintu dengan keras, berlari cepat ke arahnya. namja itu bertelut di hadapan Sulli dengan mimik wajah yang sangat amat cemas. Memucat, bukan terlihat cemas lebih tepatnya terlihat takut. Mungkin namja ini takut akan kehilangan kepercayaan dari oenni-nya Sulli.




“Sulli-ya, aku mencarimu kemana-mana. Apa yang kau lakukan? Dan kemana alas kakimu?”



Tanya namja pirang itu panjang lebar.



Sulli memalingkan wajahnya “Pentingkah untukmu?”



“Sulli-ya, jangan seperti ini Jeball. Lihat kakimu terlihat bengkak. Apa kau menginjak batu?”




“Kibum-Ssi. Ini bukan urusanmu. Sebaiknya kau pergi tinggalkan aku sendiri. Arachi?”




“lalu bagaimana caramu untuk pulang? Halte bus masih jauh Sulli-ya.”




Sulli terdiam, mencoba memikirkan alasan Key ada benarnya, Sulli bahkan meninggalkan ponselnya begitu saja di tangan Taemin.







“Tsh, ternyata Kim Kibum pun masih punya hati.” Sulli tak dapat menahan bendungan air matanya. Jika Key menatap mata sulli dengan sungguh2 ia pasti dapat melihat mata itu berkaca-kaca dan sangat terlihat menyedihkan.



Key tidak punya pilihan lain, ia harus menggunakan saran dari Minho untuk meyakinkan yeoja di hadapannya ini. “Sulli-ya, taruhan ini tak seperti yang kau pikirkan, kami bertaruh apa Minho bisa mendapatkanmu atau tidak. Itu saja! lagipula awalnya kami tidak setuju, tapi jiwa kompetetif Minho terus memaksa kami dan kami tidak punya pilihan lain. Mianne Sulli-ya, aku bahkan sudah melupakan taruhan itu, aku selalu menganggapmu sebagai Chingu yang baik... jeball sulli, pulanglah denganku.”







Sulli menatap sepasang manik milik Key mencari pancaran kesungguhan disana. Sulli pun begitu, sudah menganggap Key sebagai teman baiknya. Namun kenyataan bahwa dirinya dijadikan barang taruhan... tetap saja membuatnya kecewa dan sedih.



Tangan Key terulur dihadapannya. “kajja Sulli-ya, yang terpenting sekarang kau harus pulang.”



Ego sulli ingin menepis tangan sahabatnya itu menjauh darinya namun hati kecil Sulli yang bertindak,ia meraih tangan key dan menaruh kepercayaannya lagi pada sahabatnya ini.







****



*Ting Tong Ting Tong*



Kreeek... pintu rumah ganda itu terbuka dan menampakkan seorang yeoja dengan rambut cepak dengan kaca mata masih bertengger di batang hidungnya. Yeoja itu memicingkan matanya saat melihat Key membawa yeodongsaeng tercintanya dengan keadaan yang sangat lusuh dan menurutnya itu mengerikan!



“Ige Bwoya!!? Kau apakan adikku Kim Kibum?!”



“A-Amber bawalah masuk Sulli dulu. Nanti akan kujelaskan.”



“Aish kau ini! aku tidak datang ke perayaan ulang tahun Luna karena besok aku ada test dan adikku kau bawa pulang dengan keadaan mengenaskan seperti ini! dimana Choi Minho? apa dia yang kan bertanggung jawab?!”




“oenni... cukup.” Akhirnya Sulli angkat bicara. Amber terkejut melihat bibir pucat dengan suara serak yang ada pada Sulli. Ia bergegas merangkul Sulli dan membawanya ke dalam kamar Sulli untuk mengistirahatkannya sejenak.




Amber kembali menghampiri ‘kecengannya’ yang masih berdiri di depan pintu masuk dengan wajah penuh rasa khawatir.




“Yak! Key! Aku tak bisa bicara panjang lebar sekarang. Ini sudah malam, besok ada test, dan aku tak bisa menamparmu karena Siwon oppa ada di rumah. Pulanglah, jelaskan semuanya besok di kampus!”




BRAAK!! Bunyi pintu dibanting dengan keras dan hampir menabrak wajah Key membuatnya mematung dan memikirkan hal apa yang membuat dirinya tertarik pada yeoja mengerikan ini.



****




Amber mendekati tubuh Sulli yang terbaring dan meringkuk memeluk gulingnya “Sulli-ya? gwenchana?”



“gwenchanayo eonni.”



Mata Amber menangkap keanehan pada warna kulit kaki Sulli yang tidak lagi putih bersih namun merah muda dan mengembang. “Sulli-ya... jangan bilang kau...” Amber menatap mata adiknya itu. Sulli mengalihkan pandangannya. “jangan bilang kau tadi, berlari sangat jauh...”



“...”



“sulli-ya! jawab oenni-mu yang sedang bertanya!”



“ne oenni... mianne.”



Amber menghela nafasnya. “aigoo. Dan Sulli tebaklah akan di bawa kemana kau besok. Aku tak perlu repot2 melaporkan ini pada Siwon oppa. dia akan menyeretmu besok. Aku akan membawa es batu untuk kompres dan minuman untukmu. Aku hampir menyerah padamu sulli.” Amber berlalu meninggalkan Sulli yang mematung di atas tempat tidurnya.







Sulli memeluk boneka beruang pemberian appa-nya dengan erat. “eomma, appa, bogoshipo.” Air mata mengalir lagi dari matanya yang sudah lelah menangis. “aku selalu membuat eonni dan oppa menghawatirkanku. Otthokae? Apa tidak sebaiknya aku tinggal bersama kalian saja?” Boneka beruang itu kini menjadi basah dalam pelukan sulli.



Sulli kini benar2 merasa kehilangan orang yang ia cintai untuk kedua kalinya. Ia tak menyangka Minho akan setega ini padanya. Kini dipikirannya hanya ada Minho, dan memori tentang Minho berputar lagi di ingatannya.







SULLI FLASHBACK



“Hubungi aku, berikan nomor ponselmu.”



****



“Situasi yang seperti apa? Perfectionist girl eoh? Kau takkan pernah menemukan yang sempurna di dunia ini Sulli-ya. Memangnya sampai kapan kau ingin menemukan sosok yang tepat itu jika semua yang datang kau tolak begitu saja? Kau bahkan tak sempat melihat ke dalam dirinya, menemukan potongan hatinya yang mungkin saja cocok di potongan hatimu.”



****



“oleh karena itu Sulli-ya... jika kau tidak mencintaiku, aku takkan pernah punya beban untuk meninggalkanmu suatu hari nanti. Biarkan saja cinta tumbuh dihatiku dengan tanpa ada cinta yang tumbuh dihatimu... ku mohon Sulli-ya, terima cintaku... Jeball.”



****



“Sulli-ya... apapun itu... kuatlah,aku ada di sisimu.”



SULLI’S FLASHBACK END







Air mata Sulli terus menetes dan merembes pada boneka beruang yang juga ikut merasakan kepedihan hati Sulli.



“Oppa... aku tidak tahu aku akan bisa atau tidak, tapi setidaknya aku harus mencoba melupakanmu.”



Sulli menghapus air matanya yang terus mengalir dengan punggung tangannya. Ia tak menyadari Amber sudah mencuri dengar dari balik pintu kamarnya.



“So, buaya itu yang membuatmu menangis dan menyakiti dirimu sendiri eoh?!” bentak Amber dengan nada tinggi yang membuat Sulli tersadar dari lamunannya.



“ne eonni... oppa membohongiku.”



“sudah kukatakan, buaya tetap buaya.”



“tapi bukan itu masalahnya. Aku... bisa saja terima dan memaafkan Minho oppa  jika ia membohongiku.”







“mwo? Jadi Apa yang membuatmu ingin melupakannya?”



Sulli terdiam sejenak dan kembali menatap cermin di seberang ranjangnya “aku menemukan Minho oppa, seakan telah menemukan bayanganku, bayangan yang sama. Namun kenyataan bahwa ia adalah namja sehat, harus membuang anganku untuk terus bersamanya. Aku tidak mungkin bisa mnejalin cinta dengan namja yang sehat seperti Minho oppa. Dia berbohong tentang tumornya.”







Tungkai Amber serasa melemas saat mendengar curahan hati yeodongsaeng-nya “dan kau sedih tentang itu?”





“entahlah. Aku senang ia tak punya beban seperti yang aku emban eonni. Tapi di lain sisi, aku sangat mencintai namja itu... mendengar bahwa ia adalah namja yang sehat, membuatku.... kecewa.” Sulli mencengkram boneka beruangnya dalam pelukannya, menangis lagi hingga boneka itu siap menerima air mata yang jatuh lagi. “Aku tak siap kehilangannya. Tidak siap... dia cinta pertamaku yang mewarnai hari-hariku yang kelam.”





To Be Continued

NB ; Jeng . . jeng . . jeng . . Mimin balik. hehe. gmana - gimana lanjutannya nih. . ?? masih nyentuh banget kan ya kaaan. . >,< doakan mimin gak males buat update yak readerdeul. :D

9 komentar:

  1. DEG!! bgt min pas baca flashback minho,
    sedih bgt kyknya :'(
    keren bgt ceritanya..
    cepetan di update ya min =))
    gumawo :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tunggu flasback versi nya Ssul yaaa. . Lebiiih nyeees lagiii. . Oke . . Okee. . Mimin akan segera come back. :D
      Gomawo udah mampir plus koment, nanti mimin sampein ke Authornya yaaak. . :D

      Hapus
  2. -_- lanjut cepatan makin hari makin penasaran -,-"

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaa. . Pasti mimin update kok. Sabaaar yaaaa. . >,<

      Hapus
  3. aduh sulli eonni yang sabar ne, minho oppa tuh tulus kok

    BalasHapus
  4. jong oppa emang dee super hero shinee hahahahaa
    masih penasaran baby ssul sakit apa ??????
    next thoorr ^O^

    BalasHapus
  5. semoga sulli segera balik sama minho ,soalnya minho emg bener2 cinta sama sulli

    BalasHapus

 
Choi Minho & Choi Sulli Couple FanFiction Blogger Template by Ipietoon Blogger Template