Kamis, 29 Agustus 2013

MIRRORS Chap 10





Title : “MIRRORS” Chap 17








Choi Minho SHINee | Choi Sulli F(X) | Choi Siwon Super Junior | SHINee | F(x) | Lay EXO M


 



 Author : Davina Sandy







Length : Chaptered




Rating : PG-15


Genre: comedy, romance, hurt 
 

Summary : 

“It’s like you’re my mirror
My mirror staring back at me (JustinT-Mirrors)”



“I-itu tidak mungkin.” Onew menatap Minho tak percaya. Namja bermata bulat di hadapan Onew itu hanya mengangguk kaku seraya menghirup hot choco yang Onew sajikan untuknya. “Minho-ya!! seorang yeoja yang menderita hemofilia berat itu akan mati saat akan memasuki masa pubertasnya! Ia akan mati saat menstruasi pertamanya karena kehilangan banyak darah!”


Minho hanya menatap langit2 rumah Onew,masih tidak mengerti  dengan situasi yang kini ia hadapi.

”Atau jangan2 Minho-ya, selama ini... kau berinterasi dengan arwah.” Sambung Onew membuat Minho hampir tersedak mendengarnya

“Ige Bwoya? Hyung! Kau seorang dokter spesialis kandungan! Bukan seorang cenayang! ”

“Mianne... karena aku seorang dokterlah yang membuatku tidak percaya kalau Sulli adalah penderita hemofilia. Itu terlalu mustahil, semuanya ada diliuar teori.”

Minho menghela nafasnya panjang. “Ne, aku tahu Hyung. Ini akan menjadi sulit.”

“Sangat sulit... dan kau takkan bertahan.” Sahut Onew yang seketika membuat Minho melotot mendengar ucapannya. “Come on Choi Minho. apa kau tak mengerti maksudku? Siapa yang tidak mengenalmu. Kau namja playboy yang sering berganti-ganti pasangan. Aku tahu kau sungguh2 jatuh cinta pada Sulli. Tapi lihatlah, Sulli tak dapat menjanjikanmu apapun. Tak lama kemudian, kau akan pergi meninggalkannya.
Onew menyentuh pundak Minho lembut “Jika kau memang mampu bertahan, Itu bagus. tapi aku tidak yakin dengan Sulli. Jika memang ia tak berbohong, maka kematian sangat dekat dengannya.” Jelas Onew mencoba menerangkan penalaran  logikanya.

Minho mencengkram cangkir keramik berisi cokelat panas yang tengah digenggam nya kemudian bangkit berdiri dari kursi yangia duduki  “Gomawo hyung atas penjelasanmu tentang penyakit Sulli , dan juga mau mendengarkan ceritaku.”Minho beranjak pergi hingga suara Onew menghentikkan langkahnya.

“Minho-ya! mianne...”

Minho menolehkan wajahnya dan menatap wajah bersalah Onew dan kemudian tersenyum tulus pada Onew.  “Gwenchana hyung. Yang perlu kau ingat,diantara aku dan Sulli takkan ada yang meninggalkan dan ditinggalkan. Choi Sulli, yeoja itu sudah berjanji padaku, dia takkan pernah meninggalkan kusendirian.


****

Keesokan harinya Minho kembali membesuk Sulli di rumah sakit. Bukan Choi Minho namanya jika ia harus menyerah padakeadaan. 

Minho melongokkan kepalanya mengintip melalui kaca bening yang terpasang di pintu kamar rawat Sulli. Namun ia tak menemukan siapapun di dalamnya. Masih penasaran Minho memutar knop pintu hingga suara bass seorang namja mengagetkannya

“Siapa yang kau cari tuan?”

Minho berbalik arah dan menemukan seorang dokter tampan telah berdiri di belakangnya. 

“Saya mencari seorang yeoja yangdirawat di kamar ini sejak seminggu lalu.” 

“Mwo? kau temannya?” tanya dokter itu heranmelihat Minho.

“Aniya, aku namjachingu-nya.” Jawab Minho sekenanya, membuat dokter itu melototi Minho terkejut.
Minho hanya diam saja hingga matanya melihat  sebuah papan nama yang tergantung di saku baju dokter itu. Minho memiringkan kepalanya dan membaca dengan cermat ‘CHOI SIWON’. 

DEG! 

Minho melupakan wajah itu, wajah yang ia sering lihat di figura yang tergantung di rumah sulli. walaupun sering melihat foto Siwon, tetap saja Minho masih melupakan gesture wajah itu.

‘Sial, matilah kau Choi Minho’ rutuk Minho dalam hatinya.

“Ikut aku ke ruanganku. Ada yang ingin kubicarakan.”

“Ne.” Minho membungkuk hormat dan mengikuti langkah Siwon hingga memasuki sebuah ruangan yang terlihat seperti ruangan kantor. Ternyata Sulli dirawat di rumah sakit tempat Siwon bekerja.
Siwon mempersilahkan Minho duduk dan memulai pembicaraan.

“Aku tidak tahu jelas apa yang sedang terjadi, tapi aku tahu ini ada hubungannya denganmu.”
Minho menggenggam erat sebuket bunga mawar putih yang ia bawa untuk Sulli. “Mianne, aku mengakui ini salahku. Jika kauingin memukulku, aku akan menerimanya.”

Minho dapat mendengar dengan jelas Siwon mendesah saat mendengar pengakuannya. “Aku ini seorang dokter. Apa yang akan orang katakan jika aku memukul seorang namja di ruangan kantorku eoh?
Minho menundukkan wajahnya. “Mianne. Jeongmal Mianne.”

Siwon bangkit berdiri dari kursi empuknya dan menghampiri sebuah jendela di dekatnya.  Ia menatap menerawang  ke balik jendela.

“Choi Sulli... putri salju kesayanganku. Satu2nya  keajaiban yang dititipkan appa dan eomma.”Siwon menengok ke arah  Minho yang masih menunduk. “Apa kau ingin mendengar cerita tentang Sulli, Aku, dan Amber?

Minho mendongakkan kepalanya menatap Siwon tak percaya. ‘Apa ia tidak akan membunuhku?’ batin Minho. “Aku ada disini untuk mendengarkan.” Minho menunduk sopan pada Siwon.
Siwon menarik nafasnya lembut “Sulli dan aku bukan sepenuhnya saudara kandung. Eomma dan appa-ku bercerai di Saat itu aku masih kecil. Entah apa penyebabnya, mungkin saja karena appa seorang penderita hemofilia...”

Minho terkesiap mendengar itu, hampir sama dengan cerita masa lalunya. 

“Hampir beberapa tahun aku besar tanpa seorang eomma. Hingga Appa akhirnya menemukan seorang yeoja untuk dinikahinya lagi. Ia adalah seorang dokter spesialis yang menangani penyakit appa-ku. Mereka menikah dan aku sangat2 menyayangi eomma baruku.”

Siwon menarik nafasnya seraya menatap foto Sulli, Amber dan dirinya di atas meja kerjanya. 

“Suatu saat Eomma baruku mengandung. Dan mereka sangat kebingungan. Eomma baru-ku adalah pembawa sifat hemofilia. Ia sangat yakin akan itu, karena saudara prianya semua memiliki penyakit itu. Jadi bayi yeoja ataupun namja, kemungkinan 94% nya adalah pengidap hemofilia. Kemudian Lahirlah Choi Sulli, yang selalu dijaga ketat oleh kami. Tak boleh terluka, terjatuh, dan terbentur benda apapun. Ia yeoja penderita hemofilia, sesuatu yang langka. Dan eomma juga appa tahu, Sulli akan pergi meninggalkan kami semua saat umurnya11 atau 12 tahun. Itu adalah mimpi buruk mereka di setiap malam. ”

“Lalu kenapa kau tidak mendapatkan penyakititu?” tanya Minho masih kurang paham dengan cerita Siwon.

“Karena eomma kandungku adalah yeoja normal. Hemofilia cenderung diturunkan oleh pihak yeoja.” Jawab Siwon singkat padat. Membuat Minho mengangguk sedikit mengerti.

  “Pada saat kami dalam sebuah perjalanan menuju kampung halaman eomma Sulli, ban mobil kami meledak. mobil kami oleng dan jatuh ke dalam jurang.... dan...”




SIWON’s FLASHBACK

Siwon yang tergeletak tak berdaya melihat Sulli menagis dengan keras. Sulli terus-menerus meneriakkan nama appanya. Siwon ingin segera bangun menghampiri Sulli namun kakinya terasa nyeri dan tak dapat digerakkan.

Ia memperhatikan eommanya yang terbaring tak berdaya memeluk tubuh kecilnya. Siwon ikut menangis.  Eommanya melindunginya dari benturan yang mengahantam keras badan mobil mereka.

Sementara itu Sulli terus menangis karena melihat appanya yang penuh dengan luka dan darah segar yang terus mengalir di kepala Lay appa.

Lay appa sengaja membanting stir mobil ke arah pengemudi (arah kanan) agar benturan tidak terjadi di bangku bagian kiri, yaitu tempat duduk Sulli di bangku depan dan Siwon di bangku belakang.
Siwon ikut menangis bersama Sulli, tidak tahu harus melakukan apa. Hingga tangan Lay Appa meraih puncak kepala Sulli.


“Gwenchana Chagi-ya... kemarikan tanganmu.”Sulli memberikan lengannya, dan Lay appa menyuntikkan sebuah cairan pada Sulli.

“Appa! Andweee!!” pekik Sulli sangat nyaring

Siwon kebingungan melihat apa yang telah dilakukan appa-nya. “Appa... itu obat milik appa. Bagaimana kau menyuntik dirimu sendiri? Kau terluka appa. Darahmu takkan berhenti mengalir!” Siwon berteriak pada Appa-nya sendiri, melihat pemandangan appa-nya yang sangat mengerikan. Penuh dengan darah dan luka menganga karena pecahan kaca melekat ditubuhnya.

“Gwenchana Siwon-ah. Appa baik2 saja. Sekarang kalian harus segera pergi dari sini. Bawa ponsel appa dan omma ne. Segera cari bantuan.”

“Tapi appa...”

“SIWON-AH!! Jangan bantah Appa!!”  Bantak Lay pada putra kesayangannya. Seketika membuat air mata Siwon semakin membanjiri di pipinya. 

Siwon bangkit berdiri dengan sekuat tenaga yang tersisa dengan tidak rela melepaskan pelukan eommanya di tubuh kecilnya.

Siwon menghampiri Sulli dengan tergopoh2dan mengeluarkan Sulli yang duduk di bangku depan. Ia memeluk badan kecil Sulli yang penuh dengan luka goresan dan membawanya pergi dari jurang itu.


SIWON’s FLASHBACK END

Minho kehabisan kata2 mendengar cerita yang Siwon tuturkan. Minho menyangka cerita semacam ini hanya ada dalam film action atau film drama. 

“Kami ditemukan oleh seorang anak kecil yang sedang memungut sampah di jurang itu. Ia menolong kami, hingga kami selamat.Eomma dan Sulli sempat di rawat di rumah sakit. Appa kami sudah tidak terselamatkan karena telah kehabisan banyak darah. Eomma kami juga tidak bertahan lama. Namun pesan terakhirnya adalah mengangkat Amber sebagai anaknya untuk tanda terima kasihnya. Itulah mengapa kami bisa menjadi saudara seperti sekarang.”

Siwon mengalihkan pandangannya dari jendela dan kemudian menatap serius wajah Minho. “See? Sulli tak selemah yang kau lihat. Melukainya tak cukup untuk membuatnya terjatuh dan putus asa. Ia pernah hampir mati dan ia bangkit lagi. Keajaiban berpihak padanya. Berpikirlah dua kali jika hanya untuk membuatnya terluka Choi Minho.”

Minho tersenyum mendengar namanya disebut oleh Siwon dengan nada mengancam. “Lalu apa?” Minho menautkan kedua alisnya “Berpikirlah dua kali jika hanya untuk membuatku pergi meninggalkan yeoja yang aku cintai, Siwon-Ssi.” 

Siwon hanya terdiam seraya menatap tajam namja muda di hadapannya. 

Minho bangkit dari tempat duduknya dan akan pergi meninggalkan ruangan Siwon. “Dan satu lagi, awalnya aku memang mengganggapnya lemah. Namun sejak aku melihat sorot matanya, aku tahu dia adalah yeoja tegar yang menyimpan masalahnya sendiri. Dia kuat, dan aku akan ada disamping Sulli untuk mendukungnya. Mianne, aku meninggalkan kesan buruk dimatamu.”

“Sulli sudah membaik. Ia sedang istirahat di rumah.” Ucap Siwon menghentikan Minho yang sedang memutar kenop pintu.

“Gomawo, Siwon-Ssi.”

****


Kediaman keluarga Choi Siwon :

Sulli sedang bersantai di ruang tamu seraya membaca buku karya Plato pemberian Minho saat ia pernah jatuh sakit. 

TING TONG TING TONG

Suara bell mengusik konsentrasi Sulli. Sulli meletakkan bukunya dan membuka pintu. Minho sudah berdiri di hadapan nya dengan senyum cerah secerah mentari pagi. Sulli sempat kebingungan melihat ekspresi Minho.

 “Wae oppa? kenapa tersenyum seperti itu? Kau terlihat mencurigakan.”

“Aniya~ aku hanya senang melihatmu sudah membaik.” Ujar Minho seraya menyodorkan sebuket bunga mawar putih yang ia belikan khusus untuk yeoja yang sangat ia cintai.

“Waa ! Yeppuna! Gomawo oppa...” Sulli segera meletakkan bunga pemberian Minho ke dalam guci di atas lemari hias di ruang tamunya dan mempersilahkan Minho duduk. “Ini agak canggung. Baru kemarin aku melihatmu gusar, dan sekarang kau tersenyum secerah ini oppa. Gwenchana?”

“Gwenchanayoo.” Jawab Minho cepat, masih dengan senyum cerahnya. “Kita sekarang berteman baik kan? Jadi aku boleh mengunjungi setiap hari kan?”

“Oo’,  ne oppa. Kita berteman baik.”

Minho kembali tersenyum cerah “Aa, kudengar kakimu yang membengkak. Apa semuanya sudah kembali seperti semula?” tanya Minho sambil menyentuh pergelangan kaki Sulli.

“O-oppa, semuanya baik2 saja.” ujar Sulli sambil menjauhkan kakinya dari tangan Minho. Sulli masih merasa canggung pada Minho.

“Wae? Kenapa canggung seperti itu?”

“Ini terasa Aneh oppa. Kau bilang kau ingin berteman tapi kau memberi perhatian lebih, seperti kau masih menjadi namjachingu-ku.”

“Jinja? Tapi Aku memberikan perhatian lebih pada semua yeoja.”

“Oppa...”

“Wae?! Kau cemburu? Apa kau masih menganggapku namjachingumu?”

“....” 

“Itulah kenapa kita tidak bisa menjadi teman Sulli-ya. Perasaan tak dapat dibohongi. Aku mencintaimu, dan kau juga mencintaiku. Apa salahnya kita menjalin hubungan seprti dulu lagi?”

“Oppa... bukankah sudah kujelaskan, aku dan dirimu berbeda...”

“aku tidak peduli.”

“oppa...”

“aku bilang aku tidak peduli. Bisakah kau tidak egois?” Minho bersikeras.

“Oppa yang egois!”

“Kau yang egois Sulli-ya. Kau hanya mementingkan pemikiranmu! Terlalu takut aku terluka jika kau suatu hari nanti ‘pergi’ meninggalkanku. Kau tidak mengerti! akan menjadi lebih sakit lagi jika kau mencampakkanku seperti ini. Kau tidak memikirkan apa yang ku inginkan sebenarnya. Seharusnya kita membicarakan hal ini baik2, Karena kita adalah pasangan! Keputusan harus kita ambil bersama-sama bukan menurut pemikiranmu sendiri.”

Sulli terdiam. Ia tak dapat lagi membantah apa yang barusan Minho ucapkan. Sulli tertunduk tak mampu menatap sepasang mata Minho, terlalu membuatnya ingin menangis.

“Sekarang jelaskan apa yang kau inginkan?”Tanya Minho lembut pada Sulli.

Sulli menghela nafasnya. “Kau bukan Namja yang kucari. Kau, tidak sama denganku.”

“Kau mencari yang sama denganmu?”
 
“Ne. Aku mencari pantulan bayanganku.”

Minho mematung mendengar jawaban Sulli. Poni hitam Sulli menutupi pelipisnya yang sudah berkeringat karena gugup menghadapi Minho yang terus bertanya tentang perasaannya.

“Apakah sejenis pantulan bayangan seperti di cermin?”

“Ne.”

“Apa kau tidak menemukan itu pada diriku?”

“Ani.”

“Ini aneh, padahal aku seperti menemukan pantulan bayanganku saat melihatmu. Aku tidak menyangka kalau kau tidak menemukan hal yang sama denganku.” Ucapan Minho membuat Sulli melototkan matanya.

“Oppa, kau tidak sama denganku. Aku tidak normal.”

“Aku juga tidak normal! Apa kau tidak melihatnya? Namja playboy yang trauma karena masa lalu?”

“Tapi itu tidak sama. Kita benar2 tidak memiliki kesamaan. Aku sakit, kau sehat!”

“Sulli-ya! Kita tidak perlu sama dalam semua hal. Yang harus kau tahu aku akan tetap menjadi pantulan bayanganmu yang sama persis dengan objeknya.Bukan sama dalam hal fisik. Aku Mencintaimu seperti kau mencintaiku, memahamimu seperti kau memahamiku, menerima kekuranganmu seperti kau menerima kekuranganku, juga selalu berada di sisimu seperti kau ingin selalu berada disisiku. Tidakkah kau memahaminya?”

Keheningan seketika menyelimuti mereka berdua, Sulli kehabisan kata2 untuk menampik perkataan Minho lagi.

Bibir Sulli bergetar mendengar apa yangs udah Minho katakan. Kenapa dirinya baru menyedari hal itu? Kenapa ia baru menyadarinya saat Minho menjelaskannya? Kenapa ia baru menyadari arti dari bayangan yang sebenarnya? Sulli meneteskan air matanya. 

‘Kenapa aku bisa sebodoh ini? Tidak menyadari hal semudah itu?’ rintih Sulli dalam hatinya. Ia menatap lekat mata Minho yang tengah menatapnya.

‘Namja ini, cinta pertamaku. Juga orang pertama yang menjelaskan padaku apa arti pantulan bayangan yang sebenarnya. Pemilik wajah inilah orang yang pertama kali sungguh2 menginginkanku seperti. .  aku juga menginginkannya.’

“Phabo...” desah Sulli pelan namun masih dapat tertangkap oleh indra pendengaran Minho.
Minho mengerutkan pelipisnya “Mwo? nuguya?”

“Aku... aku yang bodoh.” Sulli terseyum manis masih dengan air mata yang membasahi kedua pipinya. Ia memeluk erat tubuh Minho yang berada di sampingnya. “Oppa... mianne.”

“Mwo?” Minho tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Sulli berubah sikap 180 derajat.

“Oppa, Saranghae...”

“Ige bwoya?” Minho melepaskan Sulli dari pelukannya lembut. “Apa kau sedang berpura2 lagi?”
“Aniyaaa~” Sulli menggembungkan kedua pipinya manja. “Aku hanya tersadar oleh ucapanmu tadi oppa. Aku bodoh terperangkap pemikiranku yang tetutup dan kau sudah membukanya. Gomawo.”
 
Minho tersenyum cerah mendengarnya. Ia kembali memasukan Sulli ke dalam dekapannya. “Cheonma... berhentilah berpikir sempit. Lihatlah yang ada di sekitarmu, maka kau akan mensyukurinya. Dan ingatlah mulai sekarang aku akan terus berada di sisimu seprti kau terus ingin berada di sisimu.”

“Ne oppa. Aku bersyukur telah dipertemukan denganmu.”

“Nado Sulli-ya. Aku juga.

Keduanya berpelukan dalam waktu yang agak lama hingga Minho teringat sesuatu yang masih mengganjal di kepalanya.

“Sulli-ya, ada satu hal yang masih membuatku penasaran.”

Sulli membuka kedua matanya yang mulai mengantuk dalam pelukan hangat Minho “Wae? Apa itu oppa?”

“Hmm... Mianne, kalau ini sedikit membuatmu tersinggung. Aku mendengar dari penjelasan Onew kalau yeoja yang menerita Hemofilia itu akan mati saat memasuki masa pubertasnya. Jadi, apakah kau berbohong padaku?”

Sulli mendengarkan pertanyaan Minho dengan baik walau masih dalam dekapan tubuh Minho yang seharum aroma embun pagi. “Aniyaa~ aku tidak berbohong oppa.”

“Ah, ne. Siwon juga mengatakan hal yang sama denganmu.”

“Kau bertemu dengan Siwon oppa?”

Minho mendekap Sulli semakin erat.  “Ne, aku bertemu dengannya. Dia menceritakan Semuanya. tentang kecelakaan itu.”

Sulli mendongakkan kepalanya untuk menatap mata Minho “Dia menceritakan tentang cermin ajaib juga?”
Minho memutar bola matanya ke atas mencoba mengingat kata  kunci Cermin Ajaib yang keluar dari mulut Siwon “aniya... apa itu?”

“Aaah... sudah kuduga ia tidak menceritakannya juga. Itu adalah rahasia kami bertiga.”

“Mwo? aku semakin tidak mengerti.”

“Nanti kau akan mengerti oppa... Aku akan menunujukkan padamu secara langsung. Aku juga akan menceritakan semuanya.”Sulli mendekatkan bibirnya ke kuping Minho dan berbisik pelan “Ini ada hubungannya dengan keajaiban yang aku dapat.”

Minho menautkan sisi kedua alisnya tanda tak mengerti. “Mwo? ceritakan Sekarang.”

“Hoaaaaam... Shireo. Aku sangat mengantuk oppa. Nanti saja... aku akan membawamu ke tempat itu. Arachi?” 

Minho memperhatikan wajah Sulli yang tengah menatapnya manja

“Araseo... tidurlah.”

“Boleh aku meminjam bahumu oppa?”

“Mulai sekarang bahu ini milikmu.”

Sulli otomatis tertawa mendengarnya. “Gomawo Oppa...” Sulli meletakkan kepalanya lembut di bahu milik Minho.

“Kau takkan tertidur dan diam2 pergi meninggalkan ku kan?!”

Sulli tersentak kaget dan mengangkat kepalanya “ANIYA!! Apa Oppa kira aku akan mati eoh?!” Sulli meneriaki Minho tepat di depan kupingnya membuat Minho mengelus daun telinganya karena lengkingan dari kerongkongan Sulli yang memekikkan.

“Ne... tidurlah lagi aku takkan mengganggu.”

“Aish...” Sulli mencubit pelan lengan Minhol alu meletakkan kepalanya kembali di bahu Minho. Minho hanya tersenyum melihat tingkah kekanakkan Sulli. Entahlah siapa yang kekanak-kanakkan tapi Minho bisa merasakan banyak hal bersama yeoja yang kini tengah tertidur pulas di bahuny.

Minho kembali mengingat perkataan Sulli tentang cermin ajaib yang barusan ia dengar. ‘Cermin ajaib? Apa itu? Adakah kaitannya dengan mengapa Sulli belum mengalami kematian? Aissh molla !!’


TO BE CONTINUED

12 komentar:

  1. keyennn ;-; tp kurang greget coba ga ada kisseu scenenya -__- *penyakit Romance Scene pun kumat ;-; minta ada adegan kisseunyaaaaa :3 #edan -_-

    BalasHapus
  2. kasian amat tuh amber :(
    lanjut next chapter, makin seru aja ceritanyaa..

    BalasHapus
  3. makin penasaran aja nih endingnya gimana :D..
    makin seru =))
    buruan next nya ya author kereeeennnn :))

    BalasHapus
  4. iya tuh..lw ada kiss scene'a kan lbh seruu,hehee
    lnjutin min,,

    BalasHapus
  5. lanjut thor.. makin penasaran aja..

    BalasHapus
  6. akhirnya sulli nggak mati kan? jgn sampe mati dong, kasiaan kisah cinta mereka :'(

    BalasHapus
  7. mirror mirror, hiks mau,y yang punya tuh si eomma tiri putri salju, tapi ini lain hahha seru seru

    BalasHapus
  8. cermin ajaib bukan'a milik nenek sihir ibu tiri dr putri salju ..
    tp sulli ga punya ibu tiri ada'a oppa tiri hahahhaaa
    next thorrr ^O^

    BalasHapus
  9. penasaran bgt sama cerita lanjutanya .

    BalasHapus

 
Choi Minho & Choi Sulli Couple FanFiction Blogger Template by Ipietoon Blogger Template