Sabtu, 03 Agustus 2013

“MIRRORS” Chap 4



Choi Minho SHINee | Choi Sulli F(X) | Amber Liu F(X) | Lee Sooman

 Author : Davina Sandy

Genre : Comedy, Romance

Length : Chaptered

Rating : PG-13


Summary : 

“aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku
Meski kau tak cinta... kepadaku." (dewi-dewi - risalah hati)


“Do it, do it chu~ true true true true it’s you~ do it doi it chu~” nada dering panggilan dari ponsel Sulli menggema di ruang dapur rumah keluarga Siwon. Sulli yang sedang mencuci sayuran segera mengeringkan tangannya dan menghampiri sumber bunyi. Sulli membaca huruf2 yang tertera di layar ponselnya , Tertulis disana “CHOI MINHO”, Sulli segera menggeser icon hijau untuk mengangkat panggilan di layar ponsel i-phonenya.


“Yoboseo, Minho-ya. Waeyo?”
“Sulli-ya,apa kegiatan mu sekarang?”
“aku sedang membantu Amber memasak untuk makan siang.”
“waa, calon istri yang baik.” Sulli mengernyitkan dahi saat mendengar kalimat itu dari seberang panggilannya. “bisakah kau menemaniku hari ini Sulli-ya?” sambung Minho
“menemanimu? eodiseo?”
“ke mall berbelanja. Ini akhir pekan. kau pasti tidak punya banyak kegiatan kan?”
“Oo’ Ne, aku akan menemanimu setelah selesai memasak.”
“Ne, aku akan menjemputmu. Pye.” Minho menutup panggilannya.

Sulli tersenyum menatap layar ponsel yang sedang ia genggam, ‘apa ini kencan pertamaku?’ Sulli membatin. Sulli meletakkan ponselnya kembali dan melanjutkan pekerjaannya yang ia tinggalkan. Amber yang sejak tadimencuri dengar,menghampiri ponsel Sulli yang terletak di atas meja dan diam2 membuka daftar panggilan diterima. Amber dengan jelas dapat membaca nama seseorang yang menelepon sulli beberapa menit yang lalu dan Ekspresinya berubah menjadi sedikit gusar “Choi Minho... apa yang akan kau lakukan terhadap adikku?”

****
Mobil merah klasik Minho tiba di depan gerbang rumah Sulli, ia mengirim pesan singkat pada Sulli dan memberitahunya bahwa ia berada di depan gerbang. Tak lama setelah mengirim pesan, seorang yeoja berponi dengan surai coklat lurus sepinggang nampak keluar dari pintu ganda rumahnya yang besar nan mnjulang. Yeoja itu tersenyum dan melambaikan tangan pada Minho. Minho membalas senyuman itu dan memandangi yeoja yang mendekat menghampirinya.

“kajja.” Ajak Sulli sembari menggenggam erat tali tas selempangnya. Sulli mengenakan kaos putih dan hot pants yang mengekspos kedua paha putih mulusnya yang jenjang ditambah sepatu kets biru-pinknya membuat mata Minho refleks menatap Sulli dari ujung rambut sampai ujung kaki.

Minho langsung memalingkan wajahnya sebelum Sulli sadar ia mulai yadong (nah -_-). Maklum lah, saat itu korea sedang dalam masa musim panas. Minho membukakan pintu mobil untuk Sulli kemudian membukakan pintu mobil untuk dirinya sendiri.
“kita akan ke mall di dekat rumahku.” Jelas Minho.

“ne.”

****
DI MALL :

“Minho-ya, apa yang ingin kau beli?” tanya Sulli pada Minho yang sedang mengambil troll belanja.

“beberapa keperluan rumah tangga.”

“Mwo?” ada sedikit kakagetan tersirat di wajah Sulli. Sulli tak menyangka flower-boy yang sedang berjalan di depannya ini bisa juga berbelanja keperluan rumah tangga tanpa harus merasa malu sebagai seorang namja. “kenapa bukan eomma-mu saja yang berbelanja?” sambungnya.

Minho terhenti saat mendengar ucapan Sulli otomatis membuat Sulli yang berada di belakang Minho juga ikut berhenti . “eomma-ku sudah lama meninggal.”
Sulli menatap punggung Minho lekat seolah memandang cermin yang memantulkan bayangannya. 

“jeongmal Mianne Minho-ya.” Gumam Sulli merasa bersalah.

“gwenchanayo.” Minho menegok Sulli yang berada di belakangnya seraya tersenyum tulus,”apa yang kau lakukan berjalan di belakangku seperti penguntit eoh? Kemarilah ” perintah Minho yang langsung membuat Sulli mendekatkan dirinya pada Minho. “Aku akan membeli sphagetti dan pasta juga keperluan lainnya. Ayahku akan datang dan kami akan makan siang bersama hari ini.”

“Jinja?? Aish, Minho-ya. Ayahmu pulang, dan kau hanya memasakkan Sphagetti untuknya?? Come on...”

Minho memasang wajah innocent-nya , “jadi?”

“jadi... kau harusnya memasak makanan korea. Bukannya itu lebih baik? Aish, aku lupa kau seorang namja, mungkin kau hanya bisa memasak sphagetti dan ramen saja.” Remeh Sulli sontak membuat Minho memasang wajah ‘no no no no!’ dan menyeringai menantang.

“mwo? Kau meremehkan kemampuan memasakku? Araso, kita akan membeli bahan masaknya. Kajja!” minho menggandeng sulli semangat, yang digandeng merasa kebingungan apa dia salah bicara.

Minho menggandeng sulli sambil mendorong troll dengan satu tangan, otomatis membuat puluhan pasang mata dalam mall memandang ke arah mereka berdua. Sulli yang sadar akan hal itu melepaskan gandengan tangan Minho. “semua orang melihat ke arah kita. Kau terlalu berlebihan.” Sulli menggigit kecil bibir bawahnya.

“ah, mereka hanya iri dengan kita. Kau, Yeoja yang sangat cantik dan aku, namja yang sangat tampan, pasangan yang sem—pur--na.”

“Mwo? Aish, jinja...” Sulli menggelengkan kepalanya tak sanggup dengan candaan Minho yang semakin aneh tiap harinya. Perhatian sulli seketika teralih saat melihat sebungkus pasta di atas rak dan menuju ke arah rak itu untuk mengambilnya.”aish, jinja! Kenapa tinggi sekali.” Sulli menginjit berkali2 untuk mengambilnya tapi tetap tidak sampai. Sulli melirik tajam ke arah Minho yang sedari tadi hanya tersenyum melihatnya. “yaak! Minho-ya! Kenapa diam saja? Bantu aku megambilnya...”

“apa begitu cara meminta bantuan pada namja yang lebih tua? Mulai sekarang panggil aku oppa.” Pinta Minho seraya memandang langit2 dengan senyum tersunggingnya.

Sulli menghela nafas dan memasang pose terimutnya “Ne, oppa... bantu aku mengambilkan pasta di atas rak itu oppa, jeball.” Sembari memasang seulas senyum yang sangaaaat manis dan mampu membuat namja manapun meleleh melihatnya, ya termasuk Minho yang dengan segera mengambilkan Sulli benda yang ia inginkan. “gomawo oppa.”

“cheonma chagi-ya.” Sahut Minho lembut dan manly. Saat melewati rak tempat memajang keperluan dapur, Minho teringat sesuatu “Oo’, karena kau akan masak bersamaku, maka kita harus membeli satu celemek lagi.”

“MWO?!” sang yeoja bersurai coklat disamping Minho terkejut. “aku akan masak bersamamu?” tanya-nya ulang.

“Ne, kau harus bertanggung jawab ! kau yang mengajakku masak makanan rumah khas korea. Jadi kau harus ikut memasak.”

“ta-ta tapi...” Bibir Sulli agak memucat saat Minho memaparkan alasan keharusan dirinya ikut serta memasak bersama Minho.

“ah, jangan2 kau tidak bisa memasak!?”

“aku bisa!” tegas Sulli menampakkan wajah pasti miliknya.

“ya sudah... kita akan masak bersama.” Minho seenak jidatnya mngajak Sulli memasak. Ia mengambil selembar celemek yang tergantung di rak dan memasangnya di dada Sulli. “Warna pink cocok untukmu.” Kemudian memasukkan celemek ke dalam troll tanpa basa-basi.

****
Saat Minho dan Sulli sudah menemukan semua bahan yang mereka perlukan, Minho langsung membawa troll ke kasir. Minho tak melihat Sulli di sekitarnya ‘mwo? Kemana yeoja itu pergi?’ batin Minho. baru saja ia ingin pergi mencari Sulli, Sulli datang membawa sekotak plester di tangannya.

“apa itu?”


“plester.” Jawab Sulli singkat. “bayarkan,aku akan menggantinya.” Lanjut Sulli sambil memberikan sekotak plester itu ke kasir. Tingkah Sulli membuat Minho bingung. ‘ada apa dengannya? Dia hanya membantuku memasak, bukan membantuku latihan tinju.’ Gumam Minho dalam hati yang pastinya tak didengar Sulli. Yeoja di hadapannya ini terlalu membingungkannya.

Saat keduanya keluar dari Mall dan menuju parkiran mobil, semua mata pasti sempat singgah ke arah mereka. Sulli teringat ucapan Minho ‘mungkin orang lain iri’ yang membuat senyuman terpatri jelas di wajah Cute Sulli. Sulli mengakui bahwa ia bangga berjalan di samping pria setampan dan sekeren Minho, ia pasti yeoja yang beruntung kan?

****
Mobil Minho memasuki sebuah jalan dengan perumahan mewah yang berjejer rapi di setiap sisi jalan. Sulli menebak-nebak rumah manakah yang akan jadi tempat persinggahannya. Sulli berhenti menebak saat Minho menghentikan mobil klasiknya di depan sebuah gerbang hitam bergaya minimalis. Tak ada penjaga, sama seperti rumah Sulli karena kompleks di perumahan mereka berdua masing2, memang terjaga aman oleh satpam komplek. Minho membuka bagasi mobil dan mengambil barang2 belanjaan. Keduanya masuk ke dalam rumah setelah Minho membukakan kunci pintunya. Sulli menngekori Minho dari belakang, menikmati pemandangan nuansa rumah Minho yang berbeda dengan nuansa rumahnya.

“kita langsung memasak ne...” suara Minho membuyarkan lamunan Sulli yang sejak tadi menebarkan pandangannya ke pelosok rumah Minho.

“Ne.” Mata Sulli terpaku saat melihat figura foto Little Minho dan appa-nya yang terpajang rapi di dinding. Sulli sempat bertanya, kenapa tak ada eomma Minho disana. Namun setelah mengingat bahwa eomma Minho sudah lama meninggal, Sulli menjadi sedikit maklum. Mungkin saja eomma Minho meninggal saat Minho lahir.

“Jangan melamun, kita harus cepat memasak!” lagi2 Minho mengagetkan Sulli yang sedang mengamati foto Minho dan appanya. Yang lebih membuat Sulli kaget, Minho bicara sambil memasangkan celemek yang baru saja mereka beli,di tubuh rampingnya.

“Oppa, aku bisa memasangnya sendiri.” Bibir sulli mengerucut, jujur saja perilaku Minho membuatnya sedikit gugup karena ini yang pertama kalinya seorang namja memasangkan celemek di tubuhnya.

“ara...” Minho menjawab Sulli lembut. “lihatlah, hampir jam 11. Appa-ku akan tiba jam 1 siang, maka kita harus cepat. Palli!”

Minho menggengam jemari Sulli dan menuntunnya ke dapur. Sulli disuguhi pemandangan dapur yang bersih dengan peralatan masak yang lengkap.

“peralatan masakmu lengkap. Apa kau sering memasak?” tanya Sulli pada Minho yang sedang mengeluarkan bahan masak dari dalam kertas belanja(kan korea pake kertas tu ya xD).

“sesekali.” Balas Minho yang masih sibuk dengan pekerjaannya, Sulli yang melihat namja itu sibuk mengeluarkan bahan langsung dengan sigap mencari wadah untuk meletakkan bahan2 yang minho keluarkan.

“aku akan mencuci semuanya. Oppa, kau dibagian memotong saja ne?” Sulli mengambil alih pekerjaan Minho. yang diperintah menurut saja dan menunggu Sulli mencuci semua bahan sedangkan ia menyiapkan peralatan yang akan digunakan.

Sulli menyerahkan wadah2 yang berisi bahan masakan yang sudah dicuci pada Minho untuk dipotong. Kemudian sulli melakukan pekerjaan lain. Saat Minho menyelesaikan pekerjaannya dan sudah memotong seluruh bahan, ia menghidupkan kompor gas dan siap memasak. Sulli yang melihat itu langsung menyenggol Minho.

“dari sini, serahkan padaku, menyingkirlah.” Sulli menaikkan sebelah alisnya seolah ia benar2 ahli dalam bidang ini.

Minho tersenyum dan menepuk lembut puncak kepala Sulli “mohon bantuannya Chef Sulli.” Kemudian berlalu meninggalkan Sulli yang sekarang asyik berkutat dengan wajan dan kompornya.

Minho menuju ruang makan untuk mempersiapkan segala yang akan dibutuhkan di atas meja makan nantinya. Dari ruang makan Minho dapat melihat Sulli yang ada di dapur dari rongga pembatas dinding yang sengaja dibuat agar lebih mudah saat mengantar makanan. “apa yeoja2chingu-ku dulu juga antusias saat memasak seperti dia?” Minho bergumam kecil dan terus memperhatikan Sulli yang sedang memasukkan bahan dan menumisnya bak koki terkenal.

Sulli terlihat sedang mencari sesuatu dan akhirnya menemukan yang ia cari,lobak yang masih belum terpotong oleh Minho. Sulli mengambil lobak itu namun tidak menyentuh pisau yang sedari tadi hanya ditatapnya. Minho yang melihat kejadian itu dari awal juga mrasa bingung ‘ada apa dengannya? Dia tak bisa memakai pisau?’ Minho membatin. Sadar akan apa yang harus ia lakukan Minho menghampiri Sulli yang ada di dapur. Benar saja, saat Minho ada di hadapannya, Sulli masih menatap pisau itu pucat.

Sulli terkejut saat sepasang tangan kekar menyentuh pinggulnya dan menggesernya lembut dari posisi awalnya “mianne, aku lupa memotong yang satu ini. menyingkirlah” Minho mengambil pisau yang masih tergeletak dan memotong-motong cepat lobak yang masih utuh.

Sulli menghirup nafas lega dan berpura2 marah pada minho “ommo, kenapa kau sampai lupa eoh?” 

Sulli menggembungkan kedua pipi pucatnya. Tiba2 ia teringat artikel tentan g tumor otak yang ia baca beberapa hari lalu, bahwa penderita tumor otak akan sering menjadi ling-lung dan mudah lupa. Sulli menepuk jidatnya dan memandang sendu namjachingu-nya di hadapannya itu ‘kasihan sekali oppa, tumor otak membuatmu mudah lupa’.

Sulli selesai mencampurkan bahan dan menyelesaikan kegiatan masak-memasaknya. Ia membawa wajan dan penggorengan yang kotor untuk ia cuci. Sedangkan Minho sibuk memindahkan masakan ke wadah dan menatanya di atas meja makan.

Saat sulli selesai mencuci ia menghampiri Minho yang berada di ruang makan. Keduanya lalu berdiri berdampingan dengan tetap clemek pink-biru menempel di tubuh keduanya. Mereka menatap permukaan meja makan yang dipenuhi dengan makanan dan... Ting tong ting tong ... Voila!! Seseorang yang mereka tunggu sejak tadi kini berada di depan pintu.
“itu pasti appa-ku.” (tau aje nih -_-) Minho dan Sulli buru2 melepas celemek dari tubuh keduanya.

Mata Sulli tertuju pada butiran air di jidat Minho.

“oppa, keringatmu.” Sulli dengan refleks menghapus keringat Minho dengan kedua tangannya. Gerakan Sulli barusan mmbuat Minho terperangah. Dan menatap sulli heran ‘yeoja ini mulai peduli paddaku?’ batinnya.

“oppa! Apa yang kau lakukan, ayo buka pintunya, appa-mu menunggu. Palli!” perintah Sulli membuyarkan praduga Minho tentang sulli.
Kreeeek, Minho menarik handle pintu dan hanya mengeluarkan kepalanya, memastikan bahwa tamu itu benarlah appa-nya.

“Appa! Masuklah...” Minho membuka lebar pintu setelah melihat appanya yang tersenyum lebar. Namun senyum lebar itu berubah seketika saat melihat seorang yeoja yang sedang berdiri di belakang Minho.

“Minho-ya!! Kau membawa seorang yeoja ke rumah kita?! Apa kau sering melakukan ini saat aku tidak ada?! Yang benar saja?!” seru appa Minho dengan nada tinggi yang seketika dapat membuat Sulli mati lemas di tempat itu juga. Sulli terpejam, tubuhnya menjadi lemah. Ia menggigit bibir ranumnya gugup dan merutuki dirinya sendiri ‘matilah kau Choi Sulli!!’

********
“Minho-ya!! Kau membawa seorang yeoja ke rumah kita?! Apa kau sering melakukan ini saat aku tidak ada?! Yang benar saja?!”
Sulli menggigit bibir ranumnya gugup dan merutuki dirinya sendiri ‘matilah kau Choi Sulli!!’. Sulli hanya menunduk dan tetap menutup matanya tak berani menatap manik milik appa Minho. 

 “aissh, Minho-ya! Anak appa yang tampan akhirnya membawa seorang yeoja ke rumah juga! Hahaha. Dasar kau curang, saat appa sering di rumah kau tak pernah menunjukkan pada appa satupun wanita cantik.”

Sulli mendongakkan kepalanya ling-lung. “aku kira ajjushi akan marah...” ucap Sulli pelan dengan penuh kejujuran. Hal itu membuat Appa-nya Minho terkekeh.“Aku hanya terkejut, Ini bukan pemandangan biasa saat ada yeoja muda di dalam rumah.” Appa Minho tersenyum manis pada Sulli. Senyum appa minho mampu menyiram bersih atas kekhawatiran Sulli yang mengira appa-nya Minho adalah seorang berperingai buruk.
“Appa... ganti bajumu dan segera ke ruang makan. Kami sudah memasakkan makanan untukmu.” Pinta Minho lembut.
“Mwo? Apa ini hari spesial?” mata appa-nya Minho tertuju pada Sulli.Yang Sulli bisa lakukan hanya membalas tatapan ahjushi tersebut dengan senyuman yang menampakkan deretan gigi putihnya.
“cepatlah kami akan menunggu.” Pinta Minho.
Sulli menghembuskan nafasnya lega. Minho yang melihat itu menyeringai menggoda. “Wae? Appa-ku tak seburuk yang kau kira kan?”
Sulli tertawa saja, ia pikir ada benarnya juga. Tak mungkin Minho berani membawanya ke rumah ini, kalau appa-nya sangat pemarah kan?
Appa Minho tiba di ruang makan ia terperangah dengan pemandangan di permukaan meja. “Aigooo... sudah kuduga, ini pasti hari spesial! Siapa yang berulang tahun?” pertanyaan Sooman(nama bapak Minho nih xD) membuat Minho dan sulli tertawa.
Sulli yang bahagia melihat tingkah appa Minho langsung menjawab “ini karena ahjjushi baru saja datang, maka Minho memasakkan makanan enak untukmu.”
“jinjaa? Aish, biasanya kami hanya makan sphagetti atau makanan pesanan dari restoran.” Sahut sooman yang membuat Minho mengelap dahinya yang tidak basah karena malu. Sooman mengambil tempat duduk di sebelah Minho dan masih tetap dengan wajah senangnya menatap makanan2 di atas meja.
Mereka bertiga pun memulai makan siang bersama.setelah pengenalan diri antara Sulli dan Sooman. Sesekali Sooman menceritakan keahlian Minho memasak saat kecil namun karena Minho sekarang sibuk kuliah ditambah ia yang jarang pulang, maka ia jarang merasakan masakan Minho lagi. Sulli terharu melihat kebersamaan namja dan ahjjushi yang dihadapannya. Sulli jadi teringat appa dan eomma-nya yang sudah tiada.
“Sulli-ya.” Suara berat Sooman membuyarkan lamunan Sulli.
“ne ahjjushi?”
“kau tahu kan, 3 bulan lagi oppa-mu ini akan wisuda?” tanya Sooman yang membuat Sulli melototkan kedua matanya menatap Minho. Minho hanya mengangguk mengintrupsikan bahwa ucapan appa-nya tadi itu benar. ”Anak ini bilang, ia akan bekerja dulu baru mengambil S2 seperti sahabatnya yang lain. Dia ingin cari pengalaman. Appa juga ingin Minho menggantikan posisi appa di perusahaan.” Sulli mengangguk mengerti dengan ucapan Sooman.
“sebentar lagi kau wisuda... tidak terasa waktu berjalan dengan begitu cepat kan oppa?” Sulli melirik Minho dengan tatapan sendu.
“ne, Kau benar. seiring waktu semua yang kau inginkan akan tercapai satu demi satu dan kau dengan cepat menyelesaikan misimu di bumi dan akhirnya pergi ke tempat yang lebih baik.” Minho sengaja bicara seperti itu agar Sulli semakin tersentuh mengingat Minho memiliki tumor otak dan tak bisa hidup lebih lama. Suasana haru antara Minho dan Sulli pecah saat tawa Sooman menghambur mendengar ucapan Minho barusan. “sejak kapan putra ayah menjadi bijak eoh? Ckckck. 

Jadi, sulli-ya... kau harus bersama Minho saat ia wisuda nanti.” Ucapan Sooman itu dengan seketika mampu membuat Minho tersedak dan batuk2 kemudian izin pergi ke toilet, namun Sooman tetap melanjutkan pembicaraannya dengan Sulli. 

“Aku ingin kau ada di samping Minho dan aku saat mengambil foto kenangan wisuda nanti. Arachi?” Sulli yang mendengar permintaan itu masih memasang muka datar. Ia mangakui, ini terasa terlalu cepat baginya. Diterima dengan sangat baik oleh appa Minho membuatnya merasa sebenarnya ia tidak pantas menerima kehormatan ini.

 Sooman yang dapat membaca isi hati Sulli dari warna dan raut wajah Sulli kemudian angkat bicara. “kau tahu... kau adalah yeoja pertama yang ia bawa kehadapanku.” Sooman menghentikan gerakan sumpitnya dan menatap Sulli. “aku yakin kau sudah tau namja seperti apa dia itu. Dia memperlakukan yeoja dengan sangat buruk. Berkali-kali yeoja datang ke rumah ini untuk bertemunya, namun ia takkan mengijinkan satupun yeoja menginjak isi rumah kami. Aku hanya tersentuh saat ia membawa mu kesini. Kupikir akan sangat bagus jika ada sentuhan yeoja di rumah yang kaku kami. Bayangkan jika ada foto dirimu bersama kami terpajang di dinding rumah ini...” 

Sooman tersenyum kelu. Sulli diam terpaku mendengar ucapan appa Minho. ‘apa aku se-spesial itu?’ ujarnya dalam hati. Sulli memberanikan diri untuk bertanya pada appa Minho. ia masih tak yakin kalau hanya tumor penyebab Minho bertingkah sebagai playboy. “ahjjushi... apakau tahu, apa yang membuat Minho begitu meremehkan wanita dan mempermainkan perasaan mereka?”
Sooman menatap kedua manik sulli yang penuh rasa ingin tahu “itu karena eomma Minho pernah...” belum selesai appa Minho melanjutkan bicaranya, Minho datang dan mengagetkan keduanya.
“kelihatannya ada yang sedang membicarakanku saat aku pergi.” Minho curiga saat mendengar namanya disebut.
Sooman meletakkan Sumpitnya dan bangkit berdiri dari kursinya. 

“Masakan kalian enak sekali... appa sudah selesai makan, appa harus menghubungi kerabat jauh appa untuk mengurus hal penting. kau temani saja yeoja-mu mengobrol.” Sooman menepuk pundak minho dan meninggalkan keduanya di ruang makan.
Sulli masih mencoba mencerna ucapan appa Minho. ‘Ahjjushi tidak langsung menjawab bahwa penyebabnya adalah syndrom atau trauma karena tumor. Ahjjushi langsung menjawab dengan alasan lain yaitu eomma minho... apa itu berarti, ahjjusi tidak tau oppa menderita tumor?’ batin Sulli yang masih tidak mengerti penyebab Minho menjadi playboy.
“chagi-yaa... apa yang sedang kau pikirkan eoh?” Minho melambaikan telapak tangannya tepat di depan wajah Sulli.
Sulli yang tersadar langsung tersenyum manis. “oppa, kau tidak memberi tahu appa-mu tentang tumor yang kau derita?”
Pertanyaan Sulli seketika membuat sepasang mata Minho hampir keluar dari tempatnya. “M-m-Mwo? Apa kau membicarakan tentang tumorku tadi?”
“Aniya, tidak sedikitpun. Hanya saja, nampaknya appa-mu benar2 tidak tahu.”
Minho mengelus dada bidangnya dan menghembuskan nafas lega. 

“Syukurlah. Aku tak ingin appa tahu... aku tak ingin membuat beban pikirannya semakin banyak. Aku bisa mengatasi tumor-ku sendiri.” Minho kira kebohongannya sudah terbongkar. “Jadi, jaga rahasia ku, jangan ada yang sampai tahu”. Alih2 Minho menyembunyikan kebohongannya. “ah, tunggu disini, aku akan membuatkanmu sesuatu.”
Beberapa asaat kemudian Minho membawa dua buah piring kecil di kedua tangannya dan menyajikannya di atas meja. “Makanlah, sekedar pencuci mulut.” Sulli tercengang menatap apa yang dilihatnya. Sebuah piring dengan potongan anggur, apel, strawberry,dan jeruk mandarin dengan mayonaise di atasnya.

“waaa Oppa! Kau keren sekali... hal seperti inipun kau bisa lakukan.” Puji Sulli sambil menyuapkan potongan buah ke mulutnya.
Minho bangga dengan dirinya sendiri setelah mendengar pujian sulli. “Bukan Choi Minho namanya, jika tidak bisa melakukan hal kecil seperti ini.” ucap Minho lagi2 dengan killing smilenya.
“kau hebat seperti oppa-ku. Ah, anni! Oppa-ku lebih hebat. Ia bisa memasak apa saja.”
“jinjaa? Kau punya seorang oppa?” tanya Minho pura2 tidak tahu. Padahal ia sudah mengetahui siapa saja saudara2 sulli.
“ne, seorang oppa dan seorang oenni.”
“pasti menyenangkan dengan rumah seramai itu.”
“tidak seramai yang kau pikirkan. kami kesepian tanpa kedua orang tua kami.” Minho menghentikan kunyahannya dan menatap Sulli yang sedang asik mengunyah. Ia tidak tahu perihal tentang orang tua Sulli.
“mianne Sulli-ya.”
“Gwenchanayo oppa. Mereka meninggal sejak kami masih kecil dalam sebuah kecelakaan, walaupun begitu Aku tetap bahagia sekarang bersama Siwon oppa dan Amber Oenni. Kau beruntung masih memiliki seorang ayah.” Minho tidak dapat berkata apa2. Yeoja ini ternyata lebih malang darinya. Tumbuh besar tanpa satupun orang tua bukanlah hal mudah. Minho menatap wajah sulli nanar.

‘Ya Tuhan, maafkan dosaku sudah membohongi yeoja lemah yang satu ini.’ rintih Minho dalam hati. Ia benci keadaan seperti ini, yang lemah tak menentu. Ingin tetap melanjutkan kebohongannya atau meminat maaf dan pergi dari hidup sulli.
“oppa? Waeyo?’ Sulli membuyarkan Minho dari lamunannya.
“aniya.” Minho sadar dari pikiran2nya dan kembali memfokuskan matanya pada wajah Sulli. Matanya menangkap sesuatu di atas bibir Sulli.
“ada mayonaise.”
“mwo?”
“disini.” Minho menghapuskan Mayonaise yang ada di atas bibir sulli dengan jempolnya. “celemotan seperti anak kecil.” Olok Minho seraya menjilat mayonaise yang ada di jempolnya. Sulli yang diperlakukan seperti itu hanya tercengang dan kehilangan kesadarannya(pingsan dong? xD).
“we? Kenapa melihatku sperti melihat pisang?” tanya Minho meniru ucapan Sulli saat pertama kali makan bersama di cafe adore. Yang ditanya masih tercengang.
“oppa! Aku bukan monyet! dan kumohon jangan melakukan hal2 yang bisa membuatku jantungan.” Sulli menggembungkan sebelah pipinya dan itu membuat Minho semakin ingin menumpahi Sulli mayonaise yang banyak. (-_-!)
Sulli melirik jam dinding yang terpajang di ruang makan. Jam 14.00 KST, ia pikir inilah waktunya pulang.
“oppa, aku harus pulang.”
“ne, tunggu sebentar, aku akan mengantarmu.”
“ani, aku ingin naik taxi saja.”
“mwo? Apa yang harus kulakukan jika terjadi apa2 dengan yeoja-ku?”
Sulli tersenyum saat mendengar jawaban Minho. “ini masih siang oppa. Jangan berpikir yang tidak2.”
“apa karena kau tak ingin pulang bersamaku?”
“aniiiyaa... aku hanya ingin naik taxi saja. Baiklah oppa, aku harus pulang. Sampaikan salam pada appa-mu. Anyyeong!” Sulli meninggalkan Minho yang hanya mengantarkannya sampai di depan pintu gerbang. Dan melambaikan tangannya sembari melemparkan senyum manis.
****
Sulli menghentikan sebuah taxi dan memberi tahu arah tujuannya. Sepenjang perjalanan ia hanya menatap keluar jendela memandang indahnya tata kota di Seoul sambil tersenyum. Ia merasa sangat senang hari ini entah kenapa, mungkin karena hal2 yang membuatnya sibuk bisa membuatnya lupa akan ribuan masalah yang ia simpan.
Setibanya di rumah, Sulli langsung menuju dapur. Ia melihat amber dan siwon duduk di sisi meja makan.
“Bwoya? Kalian baru makan?” tanya sulli tiba2 membuat siwon tersedak karena kaget. Ternyata Sulli lebih kaget lagi saat melihat meja makan. “steak? Kalian makan steak tanpa mengajakku? Hiks oenni jahatt...” Sulli mendekap Amber dan menggoyang-goyangkan tubuh Amber pelan. Amber dengan cepat menyingkirkan pisau menjauh dari Sulli, sama halnya dengan Siwon. Sulli yang melihat tingkah keduanya hanya tersenyum . “yaak! Pisau itu takkan serta merta melompat menusukku...”
“sedia payung sebelum hujan.” Jawab Siwon cepat disertai anggukan Amber yang masih asik mengunyah. “aissh, jinja! Makanlah yang banyak. Aku juga sudah makan enak hari ini.” Sulli mencubit lembut pipi eonni-nya yang sedari tadi menggembung karena sedang mengunyah daging steak dan Sulli berlalu meninggalkan mereka. 

Siwon dan Amber hanya menertawakan tingkah manja sulli.
“Mmm, akan sangat sulit baginya ber-acting menjadi wanita elegant dan angkuh di luar sana. Sedangkan di dalam rumah ia adalah anak manis, manja, dan cengeng. Tapi, pergi makan kemana anak itu?” 

Siwon bertanya dengan mulut yang masih penuh dengan makanan.
“makan di kebun binatang, hari ini ia belajar berinteraksi dengan seekor buaya.” Jawab Amber dingin
“mwo? Apa bisa? Ckck.” (-_-)
Sulli menghempaskan lembut tubuhnya ke permukaan ranjang. Ia menatap se-isi ruang tidurnya yang bernuansa pink. “Ommo... aku lelah sekali.” Sulli memejamkan matanya berharap ia tertidur lelap. Tapi bayang2 Minho yang sedang memotong2 lobak(xD) terlintas lagi dibenaknya. “Minho oppa sangat pandai memasak benar2 keren... ani! Ani! Siwon oppa tetap yang paling keren.” 

Sulli mencoba menepis Minho dari pikirannya. Sulli membuka isi tasnya dan menemukan sekotak plaster luka yang masih utuh. 

“aigoo! Aku lupa mengganti uang Minho oppa. Tapi untungnya, aku tidak terluka hari ini.” Sulli mendekap erat sekotak plaster itu. Mengingat moment berharga yang baru saja ia lewati bersama Minho dan appa Minho.
“masak bersama seorang namja, berbelanja bersama seorang namja, makan siang bersama orang tua namja itu adalah hal pertama bagiku. Minho oppa menjadi hal yang serba pertama untukku. Aish! Yang benar saja...” Sulli menggembungkan kedua pipinya dan menangkupkan wajahnya ke bantal. “tapi tunggu dulu... jawaban ahjussi waktu itu...”
Flash back
“ahjjushi... apakau tahu, apa yang membuat Minho begitu meremehkan wanita dan mempermainkan perasaan mereka?”
“itu karena eomma Minho pernah...”
Flas back end
“Ada apa dengan eomma Minho? apa seorang yeoja yang meninggal dunia bisa membuat luka yang sangat medalam di hati seorang namja kemudian menjadi menyakiti yeoja2 lain?”
To be continued




To be continued

9 komentar:

  1. min -_- bapak sama anak ada yang troma sama mamaknya yang satu lagi sama bapaknya yak? '-'

    BalasHapus
    Balasan
    1. Penasaraaaan yaaaaa . . ?? Sabaaaar yaaaa . . Nanti mimin lanjuuut . .
      #cipokdulusini
      :D
      Gomawo udah bacaa . .

      Hapus
  2. min tuh sulli knp takut ama piso yah

    BalasHapus
  3. baru nemu ini blog, wahh, aku baru jadi minsulians nih, (baru kena virus korea dari adek kost yang ngasih drama TTBY) aku suka banget pasangan "cute" ni, pas lagi nyari nyari foto mereka di internet, eh malah nyasar ke MIRROR ini, hehe,
    btw, sulli takut luka bahkan nggak boleh di cubit (di mirror chap 3) jangan jangan dia hemofili lagi??(nebak aja, soalnya saya mhsw kedokteran)

    tapi kenapa judulnya mirror ya....belum menemukan cerminnya :)

    btw lagi, keren nih blog, semoga penulisnya disini bisa jadi penulis profesional ya.... :) FIGHTING

    BalasHapus
  4. ceritanya bagus.. ada gak flasback sulii yang takut sama pisau?? semoga ada yaa di chap selanjutnya..

    lanjuutt minn... :)

    BalasHapus
  5. hahahaa ...
    tumben bgt babby sulli takut sm pisau ...
    knp tuh thor ??
    trus ada apa dengan eomma minho oppa ??
    next thoor ^O^

    BalasHapus
  6. hmmm,keren bgt thor,menarik bgt ceritanya

    BalasHapus
  7. Sulli ada hati, aku udah tau deh kedepannya. Tapi sulli eonnie kenapa takut pisau? dan siapa yang menderita tumor otak yang sebenarnya? masih penasaran sama chapter 1 yang sulli eonnie ga boleh deket sama namja. Itu kenapa? Aiissshhhh jinjja -_- mau lanjut baca tapi udah tengah malem

    BalasHapus

 
Choi Minho & Choi Sulli Couple FanFiction Blogger Template by Ipietoon Blogger Template