Kamis, 18 Juli 2013

“MIRRORS” Chap 3


Choi Minho SHINee | Choi Sulli F(X) | Amber Liu F(X) | Choi Siwon Super Junior  | Lee Taemin SHINee | Kwon Yuri SNSD
- 
          Author : Davina Sandy

Genre : Comedy, Romance

Length : Chaptered

Rating : PG-13

Genre : comedy, romance, hurt

Summary : 

“cause i don’t wanna los you now,
I’m looking right at the other half of me,
The vacancy that sat in my heart
Ia a space that now you hold...” (Justin T-Mirrors)



Minho memasang wajah masam selama menemani Yuri makan. Ia hanya mengaduk-aduk sphagetti kesukaannya yang disuguhkan oleh waitress tanpa memakannya.


“ada apa denganmu? Makanlah kau pasti laparkan? Mau ku suap?” Yuri menyodorkan garpu penuh lilitan sphagetti ke hadapan Minho.

“ani... aku tidak selera.” Minho memalingkan wajahnya. Yuri menatap tajam mata Minho, dari tatapannya Minho bisa menerjemahkan, itu artinya ‘What’s your problem with me!?’. Minho pun membalas tatapan Yuri dengan tatapan sedih dan bersalah. “Yuri Noona, ada yang harus kubicarakan padamu, sebenarnya aku...”

“Ne, aku tahu! Tanpa kau harus mengatakannya aku tahu... jadi kau diam saja.” Potong Yuri tak membiarkan Minho menyelesaikan kalimatnya.

“Chagi-ya, dengarkan aku...” Minho menggenggam lembut tangan Yuri, Yuri kemudian menghentikan garpu yang hampir masuk kemulutnya.

“ kau jarang sekali memanggilku dengan sebutan itu minho-ya.” Yuri menjawab Minho dengan suara yang agak bergetar. Yuri tahu persis dengan apa yang akan dihadapinya sekarang, Minho akan mengakhiri segalanya.

“Noona, kau bahkan tahu bagaimana perasaanku padamu. Kita tak bisa terus bergandengan tangan sedangkan kita berjalan ke arah yang berbeda. Bagaimana bisa suatu hubungan dapat terus berjalan jika salah satunya tak memiliki hati?” 

Kata2 yang keluar dari bibir Minho seketika membuat air mata Yuri jatuh berlinang dengan bebas. Yuri melepaskan segala perasaannya sekarang. “Noona, aku selalu menyukaimu, setelah aku sadari rasa suka itu hanyalah rasa suka biasa antara Noona dan dongsaengnya. Noona Mianne... aku akan selalu menyukaimu sebagai putri kampus dan Noona ku.” Minho mengelus lembut pipi Yuri yang basah bersimbah air mata dan mengelus rambutnya. 

Yuri tidak berdaya kali ini. Yuri tahu persis siapa Minho, untuk sekian lamanya, ini adalah pertama kali Minho mengungkapkan perasaan sebenarnya. “Noona, aku ada urusan penting. mian meninggalkanmu, mian.” Minho mengusap lembut lagi tangan Yuri dan berdiri dari kursi kemudian melangkah menjauhi Yuri.

“Siapa Yeoja itu?” seketika pertanyaan Yuri menghentikan langkah Minho. “Siapa yeoja yang spesial dari ribuan fansmu?” ulang Yuri memperjelas pertannyaanya.

“sayangnya Noona, dia bukan fansku.” Minho menoleh pada Yuri, tersenyum kecil dan melanjutkan langkahnya. “Mian ne Noona...”

Rumah Sulli :

Sulli memasuki pintu rumahnya yang tak terkunci ia melepas sepatu dan terkejut melihat sepasang sepatu hitam milik oppanya di rak sepatu. “kenapa oppa pulang secepat ini? apa ia menungguku?” benar saja dugaan Sulli, namja yang ia bicarakan sedang menyenderkan tangannya di dinding dan hampir membuat Sulli spot jantung. “wah oppa-ku yang tampan sejak kapan ada disini?” Senyum Sulli merekah seperti bunga matahari saat menatap oppanya.

“bagaimana cara kau pulang malam tadi?” pertanyaan singkat itu sanggup membuat Sulli menelan ludah dan bingung ingin menjawab apa. Siwon kecewa melihat ekspresi dongsaengnya dan berjalan meninggalkan Sulli. Sulli dengan segera melingkarkan tangannya ke tangan Siwon dan menyenderkan kepalanya di bahu Siwon dengan manja.

“oppa, kau tahu kan kemarin itu hujan, handphone ku mati, dan saat ada namja yang ingin berbaik hati mengantarkan pulang...” belum selesai Sulli bicara , Siwon kembali menatap Sulli tajam. Sulli tau persis tatapan apa ini.

“namja? Kau tak bercanda kan? ingat janjimu pada oppa?”

“ne oppa, aku ingat. Aku hanya tidak ingin membuatmu khawatir,maka aku ingin cepat pulang.”

“dan kau masuk diam-diam ke kamarmu dan berpura-pura tidur... kau selalu meremehkan masalahmu Sulli-ya...” Siwon mengalihkan tatapannya dari mata sulli. Sulli tahu ada kristal kecil di sudut mata oppanya. “karena malam kemarin kita gagal melaksanakan rencana kita, kita akan lakukan malam ini. arrachi?” lanjut Siwon memaksakan tersenyum pada Sulli.

“ne oppa araso. Love you oppa” Sulli meninggalkan Siwon yang masih menatap punggung Sulli. Sulli memasuki kamarnya dan menahan tangisannya agar tidak pecah di hadapan Siwon . “Mianne oppa.” Ia menatap foto dirinya, Siwon dan Amber yang tergantung di dinding kamarnya Seketika lamunannya teralihkan oleh bunyi nada pesan dari ponselnya.

From : Choi Minho

Jangan terkejut, Aku di ada di depan gerbang rumahmu.
“Mwo?!” Sulli menatap keluar lewat jendela, benar saja playboy itu sedang berdiri bersender di pintu mobilnya. ‘apa dia sudah gila? Kenapa tidak bilang dulu... jangan sampai oppa tahu.’ Sulli bergegas mengambil tas biru berisi blazer Minho dan menjinjingnya keluar dari rumah. Sulli menghampiri Minho yang tersenyum melihatnya, sulli mengerutkan dahi saat melihat senyum Minho.

“waeyo? Bukankah ku bilang jangan terkejut?” Goda Minho meliahat ekspresi Sulli. Tanpa pikir panjang, Sulli menjulurkan tangannya yang menjinjing tas biru berisi blazer pada Minho.

“Ini blazer mu Minho-Shi, aku sudah mencucinya, gomawo.”

“apakah kata gomawo itu cukup? Aish, aku mengantarkanmu pulang dengan mobilku, kemudian meminjamkanmu barangku, dan aku hanya mendapat gomawo? Ckckck.”

“lalu apa yang kau inginkan?” Sulli menatap aneh pada namja yang menurutnya playboy itu.

“temani aku makan siang, aku sangat lapar... aku tidak menyentuh makanan apapun sejak tadi.(nah,bohong xD) “ Minho memasang muka memelas sambil memegang perutnya . Sulli menghembuskan nafas lewat mulutnya saat mendengar permintaan Minho.

“hanya makan kan?”

“hanya makan!” jawab Minho meyakinkan Sulli. Sulli mengangguk setuju, Minho pun membuka kan pintu mobil untuk Sulli. Saat Sulli masuk, peristiwaa tak terduga terjadi. Tetangga Sulli yang seorang yeoja dari SMA terfavorit di seoul berlari menghampiri Minho, sambil ngos-ngos an yeoja yang bernama jieyon itu memukul dada Minho.

“ternyata benar ini kau! Oppa... kenapa kau tega padaku eoh? Kenapa kau tak membalas pesanku, tak mengangkat teleponku, dan tak bisa ditemui? Weee?!” ucap jiyeon panjang lebar. Kini Minho dan Sulli speechless seketika. Apalagi Minho, ia shock setengah mati, ia menoleh pada Sulli dan dilihatnya Sulli sedang tertawa tanpa suara dalam mobilnya.

“ka-kau siapa?” tanya Minho pura2 tidak kenal.

“aku kekasihmu oppa! Jangan pura2 bodoh!” lagi2 Jiyeon membuat gerakan anarkis dengan memukul-mukul dada Minho. Dengan sigap Minho menangkap kedua tangan jiyeon dan berkata dengan pelan. 

“sudah kuduga, kau pasti salah orang.” Jiyeon terlihat semakin naik darah. “mungkin yang kau maksud adalah Choi Minho! aku adalah kembarannya Choi Minyo. Dia memang playboy, mulai sekarang jangan dekati dia lagi. Arachi?” kali ini Jiyeon yang Speechless. Minho kemudian bergegas masuk ke dalam mobil dan membawa mobil itu segera pergi dari hadapan Jiyeon.

“hahahahahahaha!” gelak suara Sulli menghambur isi mobil Minho. Minho seketika kaget dengan apa yang dilakukan Sulli. Setahu Minho Sulli itu elegant, dan ini pertama kalinya Minho melihat Sulli ‘ngakak’. “Minho-Shi, kejadian itu tadi sudah yang ke berapa kali eoh?” Sulli bertanya pada Minho dengan masih terkekeh dan mata berair karena terlalu banyak tertawa.

“entah yang keberapa kali. Yaak! Kau, berhentilah tertawa.”

“ne, Minyo-Shi...” olok Sulli membungkuk hormat pada Minho yang membuat kuping Minho memerah sekarang. “kita kemana? Adore cafe saja ya?” tawar Sulli.

“Ne... lebih dekat lebih baik.”

Di cafe :
Minho memesan 2 potong sandwich dan 2 cangkir cappucino hangat pada waitress. Sulli tersenyum lebar saat melihat Minho memesankan makanan juga untuknya.
“We? Aku punya banyak uang untuk membelikanmu sepuluh potong lagi.” Ujar Minho yang sadar kalau Sulli tersenyum saat dia memesankan Sulli sandwich. Minho pikir Sulli pasti sedang lapar.

“Aigoo... Minho-Shi, aku tak makan sebanyak itu. 3 potong ku rasa cukup.”

“Mwo!? Yaak, kau itu yeoja, satu saja cukup.”

“aish, katakan saja kalau kau membawa sedikit uang.” Sulli mejulurkan sedikit ujung lidahnya pada Minho. Minho mengambil dompetnya dan mengeluarkan 3 kartu kredit sekaligus dan menunjukkannya pada Sulli. Sulli menelan ludah dan mengangguk tanda mengerti, Minho memasukan kembali kartu kreditnyana ke dalam dompet dengan senyum kemenangan. Waitress datang dan mengantarkan pesanan, Minho yang memang lapar langsung melahap sandwich di hadapannya.

“Ommo, pelan2 Minho-Shi nanti kau tersedak.” Sulli menegur Minho yang makan dengan lahap. Yang ditegur hanya mengangguk. Sulli pun ikut melahap sandwich dengan perlahan. Sulli tiba2 teringat kejadian saat Minho mengelus kepala Taemin saat selesai bertanding. “Mmm... Minho-shi, apa kau berteman baik dengan Taemin oppa?”

Minho menghentikan kunyahannya dan menatap Sulli, “Taemin sudah kuanggap dongsaeng-ku sendiri. Kami berteman sejak kecil.” Sulli yang mendengar itu hanya mengangguk pelan. Minho dapat membaca pikiran Sulli dari sorot matanya. “Waeyo? Selalu Merasa bersalah padanya?”

pertanyaan Minho seketika membuat jantung Sulli berdegup lemas ‘mwo?apa dia tahu?’ gumam sulli dalam hati ia tak berani menatap Minho. “aku... merasa tidak cocok dengannya, kami terlalu banyak memiliki perbedaan.” Sulli pun kaget dengan jawabannya sendiri.

“bagaimana kau mengatakan tidak cocok, bahkan kalian belum mencobanya.”

“ani, aku dapat melihatnya dengan jelas. Kami tidak cocok...”

“lalu kenapa sampai sekarang kau belum pernah berpacaran? Apa semuanya tidak cocok hanya dalam sekali lihat?” obrolan mereka berjalan sangat santai, bicara sambil mengunyah sandwich dan tanpa bertatapan, hanya saling sahut-menyahut , tapi pertanyaan terakhir Minho tadi membuat Sulli mengangkat kepalanya dan menatap Minho.

“Minho-Shi... kau sungguh tidak tahu situasiku sekarang... untuk situasi-ku ini, aku sama sekali belum menemukan sosok yang tepat.” Nada bicara Sulli berubah menjadi serius. Hal itu juga membuat Minho mendongakkan kepalanya dan membalas tatapan Sulli.

“situasi yang seperti apa? Perfectionist girl eoh? Kau takkan pernah menemukan yang sempurna di dunia ini Sulli-ya. Memangnya sampai kapan kau ingin menemukan sosok yang tepat itu jika semua yang datang kau tolak begitu saja? Kau bahkan tak sempat melihat ke dalam dirinya, menemukan potongan hatinya yang mungkin saja cocok di potongan hatimu.” Minho bingung sendiri, sejak kapan ia bisa bicara panjang lebar menasihati orang lain. Minho tak sadar jika perkataannya secara tidak langsung menyakiti hati Sulli. Sulli sedih saat Minho mengiranya seorang perfeksionis.

“jika aku disebut perfectionist, lalu disebut apa dirimu Minho-Shi?” Suara Sulli bergetar. “apa yang sedang kau lakukandengan Mempermainkan banyak wanita?”
“aku tidak sepertimu Sulli-ya yang menolak semua namja, aku membuka hatiku pada semua yeoja. Jadi aku bisa melihat ke dalam dirinya, apa dia adalah yeoja yang cocok atau tidak untukku.”

“mwo? Apa kau akan mencari yeoja yang cocok dengan cara keji itu secara terus menerus? Menemukan sepotong hati yang mencintaimu, memanfaatkannya, dipermainkan, kemudian mencampakkanya seperti sampah begitu saja?” nafas Sulli sekarang tidak teratur , emosinya menjadi semakin tak terkendali. Jika ia terus-menerus meladeni Minho, ia yakin semua rahasianya selama ini akan terbongkar begitu saja.

“kau tidak tahu apa tepatnya alasanku melakukan hal itu semua. Aku bisa melihat mereka! Mereka juga yeoja2 yang keji...” Minho kini memberikan pembelaanya atas sikap playboynya.

“mwo? Minho-shi, berkacalah! Intropeksilah dirimu sebelum kau mengatakan hal buruk yang ada pada orang lain.” Sulli berdiri meninggalkan sandwichnya yang masih tersisa sedikit serta Minho yang sekarang wajahnya telah memerah karena menahan emosi. Sulli melangkah pergi keluar dari cafe, Minho sekarang hanya menatap keluar jendela tanpa ingin menahan Sulli agar tidak pergi. Sulli hanya menunduk di sepanjang jalan berharap agar wajah mengenaskannya tak terlihat orang lain. Tak dapat ditahan lagi, ia akhirnya menitikkan air mata. “Oppa...Oenni... Otthokae? Namja ini, membuat hatiku sakit... bicara sesuka hatinya tanpa tahu apa yang sekarang terjadi padaku.” gumam Sulli yang tengah memegang dadanya menahan sakit hati.

Di tempat lain, Minho masih duduk diam dan menatap langit lewat jendela cafe dan tengah mengingat kata2 Sulli yang terus terngiang di kepalanya. “apa caraku salah? Kurasa cara ini adalah cara yang paling benar... Eomma, kau dengar yeoja tadi? Dia bilang aku keji... tapi aku yakin aku tak sekeji dirimu.” Minho tersenyum dan menghapus airmata yang hampir jatuh di pipinya.


******
“Eomma! Eomma! Jangan tinggalkan Minho dan appa, eomma! Jeball... Eomma!!!” Minho membuka kedua matanya dan terbangun dari mimpi buruknya. Kini jidat Minho penuh dengan tetesan keringat dan nafasnya tersengal. Ia segera pergi ke dapur dan minum segelas air putih untuk menenangkan diri. Pikiran Minho masih melayang, Rekaman Kejadian 17 tahun lalu terulang lagi dan diputar secara jelas di dunia mimpinya.

DI Kampus :
Minho melihat seorang namja sedang berkonsentrasi dengan lembaran yang sedang ia pegang, sesekali bibir namja itu nampak menyanyikan sesuatu dan kemudian menggelengkan kepalanya tanda tak puas. Minho tersenyum nakal melihat sunbae dan sekaligus hyungnya yang nampak sedang latihan itu. Minho mengendap-ngendap dari belakang namja itu dan...
“Anyyeong Haseyo!!!”
“OMMOOOO!!!” Jonghyun melemparkan lembaran yang tadi ia pegang karena saking kagetnya. “Minho-yaa! Apa kau ingin membuat jantungku lepas eoh?!”
“Hahaha! yaak hyung! Aku hanya ingin balas dendam...” Minho menepuk-nepuk punggung Jong seraya tertawa puas. “sedang apa kau? Latihan untuk ujian?”
“kau puas eoh? Ne.. aku latihan untuk ujian, aish, nyaman sekali menjadi Taemin mahasiswa di angkatannya menunda ujian untuk beberapa hari. Ckck.”
“semangatlah hyung, tetap optimis.” Minho mendukung Jong dengan memberi semangat sambil memberi tanda kepalan tangan.
“gomawo... ngomong2, kenapa bawah matamu menghitam? Kau kurang tidur?”
“ne hyung, mimpi buruk dari masa lalu.” ucap Minho seraya menggosok kedua belah mata besarnya. Jong yang langsung dapat menangkap poin pembicaraan dari jawaban Minho menatap dalam mata Minho dengan tatapan khawatir.
“apa kau belum bisa memaafkannya? Ayolah... semua itu sudah lama berlalu.”
“....”
“Mian ne Minho-ya... kau hanya perlu bersantai, hidupmu sudah jauh lebih baik sekarang.” Jong mengusap punggung Minho dan Minho hanya diam. Tinba2 raut wajah Minho berubah, seperti sedang mengingat sesuatu.
“yeoja itu... Choi Sulli... aku penasaran dengannya... entah kenapa sejak perdebatanku dengannya, aku selalu bermimpi tentang eomma. Kata2 pedasnya kemarin itu lemparan telak di kepalaku. Aku tak bisa menebak isi hatinya.”
“aissh, ini sudah hampir sebulan sejak taruhan, dan kau bahkan berdebat dengannya. Persiapkan uangmu untuk membiayai perjalanan kami ke Paris.” Jong menampakkan senyum mencibirnya pada Minho seraya menepuk-nepuk pundaknya.
“aku juga bingung hyung... apa yang kurang dariku? Dia tidak tertarik dengan fisikku, padahal Aku cukup Tampan (banget malah oppa mah xD), tidak tertarik dengan uangku, tidak tertarik dengan keahlianku, juga tidak tertarik dengan perlakuan baikku. Aish Mola! Mola! Aku sudah tidak tahu lagi apa yang bisa membuatnya tertarik denganku.”
“dan... ia tidak menginginkan sesuatu yang padahal yeoja lain incar kan Minho? jadi apa kau salah tentang wanita... kalau semua wanita itu sama saja?”
“entahlah hyung...”
“tapi tetap saja Sulli itu yeoja kan... semua yeoja itu mempunyai tingkat kepedulian dan rasa iba yang tinggi. Saat mereka merajuk, kau cukup berpura2 sakit saja, maka mereka akan menjadi sangat peduli...”
Minho menggaruk alisnya yang tidak gatal “Yaak, hyung... jangan terlalu sering mengenang masa2 indah dengan mantan yeojachingu-mu...” teguran Minho sontak membuat Jong batuk2.
Minho tersenyum jahil melihat hyungnya itu dan kembali teringat Sulli “hampir seminggu aku tidak melihatnya.”
“we? Kau merindukannya?” kali ini pertanyaan Jong menjadi tendangan balik Jong atas teguran Minho yang tidak sopan tentang mantan.
“Ani! Kau tahu kan kita sedang taruhan, jika aku tak pernah bertemu lagi dengannya, maka aku akan kalah. Aku harus menemuinya... tapi dimana? Dia jarang lagi ke cafe itu.” Minho terlihat berpikir keras, Jonghyun pun ikut2an berpikir keras.
“bagaimana kalau di bawah pohon tempat ia biasa menunggu jemputannya?”
Minho yang mendengar ide cemerlang Jong pun memukul punggung hyungnya itu dengan penuh semangat “Yaaak Hyung!!! Kau jenius! Oo’ hyung, kau ini selalu ada saat aku perlu. Gomawo hyung.” 

Minho kemudian berlari kecil meniggalkan hyungnya yang tersenyum menatapnya dari kejauhan.
“Minho-ya, dulu kau berjanji akan balas budi padaku... sampai sekarang, masih saja aku yang selalu ada untukmu dan kau selalu merepotkanku. ckckck”
Minho melirik jam tangan mahalnya, tertera disana 11.15. “Sulli pulang jam 12 kan, masih ada lebih dari setengah jam. Aish, apa dia sudah menunggu disana atau masih dalam jam kuliahnya ya?”
Di tempat lain Sulli masih asyik konsentrasi mendengarkan dosennya menjelaskan. Tiba2 ponsel dosennya berdering dan ternyata dosennya memiliki urusan penting, kemudian meminta maaf pada siswa karena tak bisa melanjutkan pengajarannya. Sebagai gantinya mereka diberi tugas kecil. Semua mahasiswa bersorak-sorai bahagia, termasuk Sulli juga. Baginya, pulang lebih awal itu sangat menyenangkan. Sulli melangkahkan kakinya pergi keluar ruangan dan segera menuju tempat biasa ia menunggu jemputan. Sulli duduk di tempat biasa, di kursi di bawah pohon. Ia membuka tasnya lalu mengambil ponsel untuk melakukan panggilan ke supir pribadinya.
“yoboseyo nyonya Sulli. Waeyo?” suara dari seberang panggilan terdengar di telinga Sulli.
“Eunhyuk-shi, aku pulang cepat hari ini. bisa kau menjemputku? Di tempat biasa.”
“tapi nyonya, aku sekarang dalam perjalanan mengantar file penting milik tuan Siwon. Bisa kah kau menunggu sebentar? Aku akan menyetir dengan cepat.”
Sulli menggembungkan pipinya saat mendengar jawaban supirnya itu.

 “Ne ahjussi, hati2 di jalan.” Sulli menutup panggilan dan membuang nafasnya. “tempat praktek oppa kan jauh, pasti makan waktu lama.” Sulli memasang wajah cemberut tak sabar ingin pulang. Tiba2 sebuah tangan yang memegang segelas besar minuman soda terjulur di sampingnya. Tangan itu membuat Sulli terkejut dan dengan cepat menoleh ke belakang bangku. “Beoya!?”
“mwo? Apa kau tak tahu ini apa? Ini minuman bersoda.”
Sulli menautkan kedua alisnya, “aissh... aku tahu ini minuman bersoda. tapi apa ini untukku?”
“Ne. Sebagai tanda permintaan maaf, jadi terimalah.” Minho menggoyang pelan minuman tadi tanda agar Sulli segera mengambilnya. Sulli mengambil gelas plastik berisi minuman soda itu dari tangan Minho, membuat kedua tangan mereka bersentuhan.
“gomawo. Apa yang kau lakukan disini?” Sulli meminum minuman soda itu dengan sedotan dan bicara pada Minho tanpa menoleh pada Minho.
“menunggu jemputan.” Jawab Minho bercanda. Candaan itu membuat Sulli berhenti meminum dan tersenyum aneh pada Minho.
“kau mengolokku Minho-Shi?”
“ani! Aku sungguhan menunggu jemputan. Kenapa lama sekali?” Minho membuat gerakan seolah-olah mencari seseorang. Sulli terkekeh melihat tingkah Minho.
“apa yang kau lakukan? Apa kau tidak lelah terus berdiri? Duduklah...” Sulli menepuk-nepuk wadah duduk disebelahnya tanda agar Minho harus segera duduk.
“dengan senang hati.” Minho duduk disebelah Sulli dan menatap Sulli yang sedang minum. “Sulli-ya mian ne...”
“kau salah apa Minho-Shi?”
“hentikan memanggilku seperti itu.”
“jadi sperti apa?” Sulli tersenyum kecil mendengar keluhan Minho.
“dengan sebutan biasa.”
“ne, chowayo.” Sulli mengangguk mengerti namun masih merasa lucu dengan tingkah Minho. “Apa salahmu Minho-ya?” sambung Sulli.
Minho melipat kedua tangannya “kemarin itu... saat di cafe, Mian ne. Mian karena bicara kasar tentangmu. Aku seharusnya tidak bicara yang tak pantas. aku tahu, kita melakukan sesuatu karena ada alasan tertentu dibaliknya. Jadi memang tak seharusnya aku ikut campur urusanmu.”
Sulli memandang Minho saat menjelaskan permintaan maafnya, ia melihat ketulusan Minho dari raut wajah dan sorotan matanya. 

“Ne,aku juga minta maaf karena bicara kasar, kita saat itu benar2 dalam keadaan labil.” Sulli terkekeh pelan membuat Minho juga tersenyum canggung.
“tapi aku benar2 merasa bersalah Sulli-ya...”
“gwenchana... aku ini tahan banting.” Ucap Sulli seraya mengepalkan telapak tangan kanannya dan memasang tampang sok kuat, otomatis hal itu membuat Minho geli mendengarnya dan tertawa.
“Jinja? Baiklah, apa kau ingin ku banting?” Minho menyodorkan kedua tangannya seolah ingin membanting Sulli.
“ani! Ani! Maksudku bukan banting yang begitu...” keduanya tertawa bersama.
Minho memandangi Sulli yang sedang tertawa, ia pikir Sulli memang terlihat lebih baik saat tertawa daripada marah seperti saat perdebatan beberapa hari lalu. Bukan hanya terlihat lebih bak, tapi jauh lebih cantik. Minho suka sekali dengan eyesmile Sulli, ia suka senyuman dan bibir Sulli, ia suka hidungnya, juga suka tai lalat(?) yang terletak di hidung Sulli. Ia suka semuanya yang ada pada Sulli, Ia pikir ia takkan bosan untuk memandang yeoja ini.
“kenapa memandang ku seperti itu Minho-ya? Apa aku terlihat seperti pisang?”
“mwo?! Kenapa harus seperti pisang? Kau pikir aku monyet?” lagi lagi jawaban Minho membuat sulli tertawa. Minho hanya menggeleng melihat tingkah yeoja satu ini.
“jadi, Minho-ya... sekarang kita resmi berteman?” Sulli menjulurkan kelingking kanannya. Minho menautkan Jari kelingkingnya pada kelingking Sulli.
“Ani, aku tak ingin jadi sekedar teman.” Jawaban Minho seketika membuat Sulli memasang wajah datar tanpa ekspresi. “aku takkan menyerah. Ini baru 3 minggu, aku akan mengejarmu selama bertahun-tahun.” Lanjut Minho tanpa malu2.
“jinjaa? We? Kau ingin beralih profesi dari namja playboy menjadi namja setia?”
“aniya, aku tidak ingin kalah dengan taemin.” Minho menjawab dengan menaikan alis sebelahnya membuat Sulli tersenyum lebar menunjukan deretan gigi putihnya karena melihat tingkah Minho.
“kalau begitu lakukan sesuka hatimu sampai kau menjadi bosan Minho-ya” Sulli mengelus lembut pundak Minho, Sulli merasa mereka masih dalam situasi bercanda.
“ne, sulli-ya... aku akan bersabar. Walaupun sebenarnya sisa waktuku tidak banyak.” Tatapan Minho menerawang ke langit sambil menghembuskan nafasnya kesal, ia pikir dengan keteguhan Sulli untuk tetap sendiri akan membuat Minho kalah taruhan dengan Shinee.
“mwo? Sisa waktumu tidak banyak?” Sulli tidak mengerti maksud Minho. Minho yang ternyata keceplosan menjadi sedikit gugup dengan pertanyaan Sulli. Ia hanya menggelengkan kepalanya tapi hal itu malah membuat Sulli semakin penasaran.
“kau menyembunyikan sesuatu dariku Choi Minho?” kini pertanyaan Sulli benar2 membuat Minho bingung. Tiba2 ia teringat perkataan Jonghyun bahwa semua yeoja mempunyai tingkat kepedulian dan rasa iba yang tinggi dan ide yang benar2 gila muncul di kepala namja tampan ini.
“jika aku mengatakan maksudku, kaupun takkan percaya Sulli-ya...” Minho memasang wajah Sedih dan putus asa tepat seperti wajah seseorang yang ingin boker tapi tak ada air. (naaaah xD)
Sulli dengan jiwa yang penuh rasa ingin tahu langsung menunjukkan puppy eyesnya, sedikit mengembungkan kedua pipinya lalu melipat kedua telapak tangannya dan mulai merayu Minho.
“aku pasti percaya dengan ucapanmu OPPA... ceritakan saja nee...?”
“kau merayuku huh? ani, kau akan menganggapku bercanda dan menertawakanku.”
“aku berjanji aku takkan tertawa...”
“ani.”
“baiklah, aku pergi. Anggap kita tak pernah kenal Minho-Shi.” 

Sulli bangkit berdiri dari bangkunya berpura2 nagmbek dan Minho dengan segera menahan Sulli dengan menggenggam pergelangan tangannya.
“aku menderita tumor otak sulli-ya.”
Sulli yang mendengar itu melototkan kedua matanya dan memandang wajah namja itu dengan penuh ekspresi “MWO!?”

*****

“MWOO?!” Sulli membelalakkan kedua matanya setelah mendengar ucapan Minho. Minho menjadi sedikit merasa bersalah tentang kebohongannya, tapi Minho benar2 yakin, inilah satu2nya jalan membuka hati Sulli untuknya.


Sulli masih menatap Wajah Minho mencari kebenaran disana. Minho memasang ekspresi datar agar kebohongannya tidak terbaca Sulli. Keduanya masih hanyut dalam suasana diam dan saling bertatapan dengan pikirannya masing2. Minho yang tak tahan dengan energi canggung diantara mereka langsung melambaikan telapak tangannya di depan wajah Sulli.

“Sulli-ya... sadarlah.”
“Mwo? Hahahhahah!” Sulli tertawa sambil menutup mulut dengan kedua tangannya. “Minho-ya... leluconmu bagus sekali.”
Minho menghembuskan nafasnya “sudah kuduga kau akan menganggapku berbohong. Jika ku tahu kau menertawakan sakitku,aku takkan pernah memberitahumu. Kau orang kedua yang menganggap sakit ini adalah bercanda.”

Seketika Sulli mengganti wajah tertawanya menjadi wajah serius dan sedikit menaruh rasa iba “kau tak berbohong? Aku yang kedua?siapa yang pertama??” tanya Sulli membanjir.
“apa aku terlihat seperti berbohong?? Hanya kau dan...” Minho berpikir keras, kira2 siapa namja atau yeoja yang bisa diajak bekerja sama. “kau dan sahabat baikku.” Lanjut Minho ambigu, tak tega menyeret salah satu dari 4 sahabatnya untuk ikut dalam permainan dusta kali ini.

“Nugu? Siapa sahabatmu itu?”
“apa kau harus tahu semuanya? Jika kau tahu siapa dia, kalian akan menertawaiku bersama...”
“ani... aku takkan melakukan itu.” Sulli menggeleng. “kenapa kau merahasiakannya?”
“aku tak ingin orang merasa kasihan padaku atau menjauhiku karena takut kehilanganku kalau aku mati.”
“Yaaak! Minho-ya! Bicara apa kau! Tidak akan ada yang mati disini.” Sulli meneriaki kuping Minho. Minho langsung mengelus kupingnya sembari meringis karena suara melengking sulli menyakiti telinganya. Minho pikir ini bagus, karena nampaknya Sulli mulai percaya.

“itulah, alasanku kenapa aku menjadi playboy... kau tahu, takkan mudah saat kau benar2 mencintai seseorang kemudian harus segera pergi meninggalkanya. Itu juga akan menjadi luka untuk hati seseorang yang aku tinggalkan. Sangat bagus jika meninggalkan seseorang dalam keadaan mereka membenciku daripada mereka mencintaiku. Arachi?”

Sulli hanyut diam menatap Minho tak percaya kalau Pria yang terlihat sangat sehat dihadapannya ini menderita tumor otak? Yang benar saja! Apa kau bercanda?’ “lalu kenapa akhirnya kau datang padaku? apa maksudmu huh?”

Dalam hati Minho menjawab ‘Taruhan’, tapi mulutnya bicara lain “aku tersadar saat perdebatan kita beberapa hari lalu. Aku seharusnya tak menyakiti hati semua wanita yang mencintaiku, karena cinta bukan untuk dipermainkan oleh siapapun itu, untuk seseorang yang sehat atau pun yang sakit sepertiku... kau yan menyadarkanku dari kesalahanku. Dari kesekian banyak yeoja, kurasa kau orang yang tepat untukku Sulli-ya” Minho membalas tatapan Sulli yang sedari tadi menatapnya penuh dengan rasa kasihan. Tangan Minho menyentuh tangan Sulli, Sulli terkejut dengan sentuhan yang tiba2 itu.

“tapi Minho-yaa, kau juga tahu persis, bahkan aku tak punya sedikit hati atau cinta untuk kuberikan kepadamu. Aku tidak mencintaimu...”

“oleh karena itu Sulli-ya... jika kau tidak mencintaiku, aku takkan pernah punya beban untuk meninggalkanmu suatu hari nanti. Biarkan saja cinta tumbuh dihatiku dengan tanpa ada cinta yang tumbuh dihatimu... ku mohon Sulli-ya, terima cintaku... Jeball.” Pinta Minho dengan sepenuh tenaga berusaha mengeluarkan air matanya agar actingnya kali ini terlihat sempurna. Dan benar saja, matanya mememerah. Minho sadar matanya memerah bukan karena acting, tapi benar2 merasa sedih, yeoja dihadapannya ini merendahkan harkatnya sebagai playboy kelas kakap. Sulli lah wanita pertama yang mampu membuatnya merengek seperti anak kecil. Minho dapat melihat wajah Sulli yang kebingungan. ‘jika yeoja dihadapanku ini, tak menerimaku lagi, maka aku akan menyerah dari taruhan ini.’ batin Minho.

“Mmm, Minho-ya aku...” baru saja Sulli akan memberi jawabannya, supir pribadi Sulli tiba dengan Mobil hitam mewah milik keluarga Sulli. Eunhyuk menurunkan jendela mobil dan melambaikan tangannya pada Sulli, yang menerima lambaian langsung membalasnya dengan senyuman dan anggukan.

“Sulli-ya, eotthoke?” tanya sang playboy memastikan bahwa Sulli harus memberikan jawabannya.
“hm, aku akan memberi jawabannya padamu nanti.” Sulli berdiri dan melepaskan lembut tangannya dari genggaman Minho (lama bener genggamannnya -_-)

“besok sore jam 4, di cafe adore! Kau harus memberi jawabanmu!” seru Minho sedikit berteriak karena Sulli sudah agak jauh darinya.

“Ne!” Sulli menoleh pada Minho dan mengangguk setuju.
Minho tersenyum dan berteriak lagi “Take care yourself, My Snow white!” yang diteriaki hanya menoleh dan tersenyum lebar sembari melambaikan tangannya kemudian masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah dibukakan.

Minho merasa lega karena respon Sulli sangat bagus hari ini. “baguslah, tanggapan Sulli terlihat berbeda kali ini. rasa ibanya terhadap orang lain benar2 patut diacungi jempol... tapi apa aku tak berlebihan? Tumor otak? Yang benar saja! Phabo, phabo!” Minho merutuki dirinya sendiri seraya mengetuk-ngetuk kepalanya dengan kepalan tangannya, penyesalan melintas di pikirannya, tapi apa boleh buat, demi mendapat perhatian Sulli dia akan melakukan apapun.

DI RUMAH SULLI :

Sulli membuka pintu kamarnya dan langsung meraih netbook pink di atas meja belajarnya yang tertata rapi. Ia memasang port internet pada netbooknya dan melakukan searching pada mesin pencari dengan keyword “tumor otak”. Sulli menemukan beberapa artikel dan membacanya. Saking konsentrasinya sulli menatap layar netbooknya, ia tak sadar kalau Amber sedang mengendap-endap di belakang Sulli untuk mengagetkannya. Niat Amber untuk membuat Sulli terkejut seketika batal saat membaca huruf2 yang tetera di layar netbook Sulli,

“untuk apa membaca artikel ini? siapa yang terkena tumor?” tanya Amber tiba2, membuat Sulli terperanjat dari hadapan netbooknya.
“aissh, oenni... ketuk pintu saat kau masuk. Kau mengagetkanku.” Sulli kembali menatap layar laptopnya.
“Mian ne. Pintu kamarmu terbuka begitu saja. Lagipula aku tadi memang ingin mengagetkanmu.”
Sulli melirik oenninya tajam membuat Amber langsung mengalihkan perhatian Sulli dengan menunjuk nunjuk layar laptop. “jadi siapa yang tumor otak? Jangan2... Sulli kau... jangan bilang kau...” Amber menatap dongsaeng-nya dengan lemas tak berdaya.

“Aniya! Bagaimana aku dapat menyembunyikan sesuatu penyakit ganas seperti tumor di hadapan seorang dokter spesialis dan di hadapan seorang calon dokter eoh?!” Sulli menggembungkan kedua pipinya tanda kesal dengan Amber karena telah berpikir yang tidak2.
“aaa, syukurlah... jika itu benar2 terjadi, maka aku dan oppa akan menjadi semakin sibuk karenamu.” Amber menjulurkan lidahnya pada Sulli.

“oppa yang mana yang akan menjadi sibuk?” suara berat seorang namja dari arah pintu menghentikan perdebatan Sulli dan Amber dan lalu menengok ke arah sumber suara.

“aniya oppa, Amber hanya menggodaku.” Sulli menggembungkan kedua pipinya manja. Siwon tersenyum melihat tingkah kedua yeodongsaeng-nya dan matanya beralih memperhatikan layar laptop Sulli. “Tumor otak? Kau jurusan filsafat sulli-ya bukan Kedokteran... apa yang kau ingin ketahui tentang tumor otak?” Siwon penasaran kenapa adik kecilnya membaca tentang artikel itu di dunia maya.
Sulli kembali fokus pada laptop di hadapannya “aku sedang mencari tahu seberapa bahayanya tumor otak.”
“Oo’, itu tergantung tumor jenis apa yang dideritanya, tumor ringan atau tumor ganas. Kalau tumor ganas, ada kemungkinan sel kanker telah tumbuh dan harus segera diatasi. Kalau tumor ringan, tidak terlalu masalah, hanya perlu melakukan operasi pengangkatan tumor.” Jelas Siwon dengan menumpahkan pengetahuannya sebagai seorang dokter spesialis patologi.

“dan yang terpenting bisa sembuh tidak seperti...” Amber menghentikan ucapannya saat tatapan tajam siwon telah menusuk mata Amber dan seketika membuatnya bergidik ngeri.
Sulli hanya tersenyum mendengar perkataan Amber yang terputus. “aaa... jadi begitu. aku hanya ingin tahu saja bagaimana tumor itu.”

“jadi, siapa yang tumor otak?” Amber penasaran.
Sulli mengentikan ketikannya saat amber bertanya dan ia mulai menjawab “seorang namja... ”
“NAMJA??” ucap Amber dan siwon bersamaan.
“Ne... dia ingin aku menerima cintanya, karena dia menderita tumor otak.” Sulli menjelaskan maksudnya membuat kedua kakaknya menjadi terkejut saat mendengar alasan Sulli. Sulli pun memutar kursinya dan kemudian menghadap Siwon dan Amber yang masih speecless. “Jadi oppa, eonni... aku bolehkan menerima cintanya? Bagaimana eonn?”

Amber terbatuk-batuk dan melirik jam tangan kuning di pergelangan tangan kirinya. “aish, 5 menit lagi jam istirahat berakhir aku harus bergegas. Minta pendapat oppa-mu saja ne? Pye, love you!” Amber bergegas kabur dari tempat itu meninggalkan Sulli dan Siwon yang diam terpaku.

“Jadi, oppa... bagaimana menurutmu? Bolehkan?” Sulli melirik oppanya yang hanya diam sejak tadi.
“Ommo!” Siwon menapak jidatnya pelan. “ Mianne Sulli-ya. Oppa punya janji dengan seorang pasien... mianne, oppa harus pergi! Love u!” Siwon melemparkan kiss bye-nya untuk Sulli dan membuat Sulli terperangah dengan sikap kakak-kakaknya yang seolah menghindar.

“aish! Jinja! Yang benar saja... kakak macam apa kalian ini eoh!?” Sulli berteriak sendiri tanpa ada yang mendengarkan. ‘tapi, mereka akan sangat sensitif dan memarahiku kalau mendengarku dekat dengan seorang namja, kali ini mereka malah menghindar untuk menjawab... kuanggap itu artinya aku diperbolehkan...’ batin Sulli seraya tersenyum memandang pajangan foto dirinya, amber, dan siwon di dinding kamarnya.

Di tempat lain di waktu yang sama, seorang namja juga melakukan hal yang sama dengan Sulli, browsing dan serching tentang tumor otak. Ia harus memperdalam pengetahuannya tentang ini, karena kebohongan ini harus terlihat sempurna di depan Sulli. Agar Sulli tetap percaya pada namja curang ini, dan namja ini bisa memenangkan taruhan yang ia lakukan bersama gengnya.


Di cafe adore :

Minho terus gelisah sembari memandang jam dinding yang tergantung di dinding cafe. Ini hampir jam setengah lima tapi yeoja yang sedari tadi telah Minho tunggu tak kunjung datang. Minho jadi pemandangan bagus bagi yeoja2 yang ada di cafe itu, sudah tampan, nampaknya dari keluarga berada, duduk sendiri pula. Menjadi sasaran empuk para wanita single yang ada disana. Namun harapan2 yeoja itu segera terbang dibawa angin puyuh saat yeoja yang cantiknya cetar luar biasa (syahrini kalee) mmasuki pintu cafe dan mengambil tempat duduk di hadapan Minho. Minho menyambut kedatangan Sulli dengan senyum lega.

Minho memandang Sulli yang terlihat sedikit berkeringat “kenapa kau lama sekali?”
“Ah, Mianne... aku tertidur. Kau tahukan, aku hanya berjalan kaki dari rumah.”
“Oo’ Ne.” Minho membuat gerakan untuk memanggil waitress. Waitress datang dan Minho memesankan minuman dan cemilan untuk Sulli. “jadi, bagaimana? Apa jawabanmu sulli-ya?”

Yang di tanya tertunduk dan terkekeh kecil mendengar pertanyaan Minho “kenapa harus tergesa-gesa Minho-ya? Aku baru saja datang.”
“setiap detiknya sangat berharga di hidupku.”
“jinja? Kau baru menyadarinya?”
“Ne, sejak bertemu denganmu.” Minho mengeluarkan Jurus ampuhnya, killing smile.
“itulah, mengapa aku datang disaat yang tepat. Agar kau tidak mati sia2.” Perkataan Sulli sedikit membuat Minho bergidik mendengar kata “MATI”.
“aku takkan mati! Aku akan melakukan operasi.”
“jinja? Bukankah aku menjadi yeojachingu-mu karena kau akan mati? Kalau kau tak mati, maka aku tak perlu menjadi yeojachingumu.”
“ani! Bisa saja kan operasi itu gagal dan aku bisa saja...” belum selesai minho menyelesaikan ucapannya, waitress datang mengantarkan pesanan.

Sulli tersenyum melihat ekspresi Minho yang sedikit gugup. “ani Minho-yaa, aku hanya bercanda. Aku akan tetap menerima perasaanmu.”
“Mwo?! Kau menerimaku?!” Minho bukan kepalang bahagianya, akhirnya yeoja dihadapannya itu menerima pernyataan Cintanya walaupun bukan berdasarkan cinta tapi karena iba.
“Ne. Tapi ada syaratnya”
“baiklah... sebutkan saja.”
“pertama...”
“Mwo?! Pertama? Apa ada yang kedua dan ketiga? Ayolah Choi Sulli... jangan terlalu banyak.”
“aish, aku bahkan belum menyebutkannya... dengarkanlah dulu dengan cermat. Arachi?”
“arasooo.”
“ pertama , kau tak boleh melakukan kekerasan dalam bentuk apapun kepadaku baik itu berupa pukulan, tamparan, atau cubitan.” Sulli mengacungkan jari telunjuknya pada Minho, yang sedang diceramahi hanya diam dan mengangguk mengerti. “kedua, jangan memaksakan kehendakmu. Jika kau ingin melakukan sesuatu bersamaku, maka kau harus meminta izin. Dan yang ketiga kau tidak boleh...” Sulli melirikkan matanya ke langit2 untuk berpikir apa yang tidak boleh Minho lakukan lagi saat berpacaran dengannya.

“tidak boleh berselingkuh.” Sambung Minho yang membuat mata Sulli kembali menatap mata Minho.
“dan itu harus! Karena sebelumnya kau pernah bilang kau sudah menemukan orang yang tepat saat mengenalku,tidak ada alasan lain untuk berselingkuh karena aku orang yang tepatkan?” Sulli menjawab dengan penuh rasa percaya diri.
“Ne.” Minho mengangguk pelan kemudian memutar memori 1 hari lalu dimana ia memutuskan semua hubungannya dengan pacar2 nya yang tersebar merata di korea selatan. Ia tak ingin taruhannya hancur berantakkan kalau Sulli tahu ia masih menjadi seorang playboy. Minho benar2 berusaha keras untuk taruhan ini.
“baiklah, hanya itu syarat yang kuajukan.” Sulli meniup poni cokelatnya. “kau tak ada kan?”
“mmh, kurasa tidak ada. Cintaku padamu tanpa syarat.” Minho tersenyum seksi membuat Sulli salah tingkah mendengar jawaban Minho. “Ne, mulai sekarang, aku resmi jadi yeojachingu-ku.” Minho mengulurkan jari kelingkingnya pada Sulli.
“ne, kau resmi jadi namjachingu pertama-ku.” Sulli menautkan kelingkingnya pada kelingking Minho dan membalas senyum merekah Minho.

‘Sulli-ya, Mianne... aku berbohong seperti ini, mianne... ini karena tak ada jalan lain agar kau tersentuh dengan sakitku dan merasa peduli.’ Batin Minho.
‘Minho-ya, Mianne... menerima cintamu tanpa bisa membalasnya... aku hanya ingin membuatmu bahagia di sisa akhir hidupmu. Tapi aku akan mencoba mencintaimu’ Batin Sulli.
Disinilah cerita baru diantara mreka baru dimulai. Sejak detik ini, kehidupan mereka berdua kan berubah. sang playboy mencoba setia dan sang yeoja yang tak pernah menjalin cinta akan mencoba jatuh cinta.



To be Continued

12 komentar:

  1. Balasan
    1. Oh iya min btw siwonnya kenapa sih?
      Ama taemin sama minhonya? :D gua bingung sendiri

      Hapus
    2. annyeong! ini authornya^^ mianne baru nge-reply. biasa kanker, sama kaya dhea oenni. wekekek. baca chap berkitn ya aja ya... awal2nya emang bikin bingung. hehe. gomawo udah baca. ^^

      Hapus
    3. ok ok :3
      balas pake blogger ini habis bikin baru kkk

      Hapus
  2. Mian, miminnya blom bisa update. Blom ada pulsa internet. Janji kalo udah ada di lanjut. Kekeke. Gomawo udaaah baca yaa. . ^^

    BalasHapus
  3. seimbang jadinya sama sama bohong :D

    BalasHapus
  4. aduh kece, nga saling cinta.. tapi malah nikmatin setiap kebersamaan mereka, hhaha

    BalasHapus
  5. keren sekali , tapi takut deh ntar minho ngomong pura2 kena tumor otak eh nanti malah kena tumor otak beneran ceritanya , dan gimana nanti rasa sedih nya sulli kalo tau dia di bohongin soal penyakit itu sama minho dan apalagi dia awalnya cuma buat taruhan

    BalasHapus

 
Choi Minho & Choi Sulli Couple FanFiction Blogger Template by Ipietoon Blogger Template