Rabu, 02 Oktober 2013

MIRRORS Chap 15 (end)^^




Title : MIRRORS chap  22


cast : CHOI MINHO (SHINee)  |  CHOI SULLI  (f(x))  |  others


author : Devina Sandy


length : Chaptered

rating : PG-17 ;D

Genre : Fantasy, Romane, sad, hurt, comedy


Seorang yeoja tengah berdiri tak jauh di hadapan Minho. Yeoja itu sesekali melompat-lompat kecil seolah-olah dirinya adalah penari balet. Ia benar-benar terlihat bahagia.
Minho menatapnya dari kejauhan, memperhatikan setiap gerak-geriknya.

Ia tak terlihat gelisah, namun Minho tahu yeoja itu sedang menunggu seseorang.
Sadar jika seseorang sedang mengamatinya, yeoja itu menghentikan aktivitas lucunya tadi dan mengedarkan pandangan ke sekelilingnya.

Mata keduanya bertemu, Yeoja itu tersenyum pada Choi Minho. Senyum yang hangat dan cerah memancar darinya. Bibir merah dan menggoda itu, kulit seputih salju, mata yang ikut tersenyum saat yeoja itu tersenyum, dan tatapan penuh cinta... itu semua hanyalah milik Choi Sulli.

                “Choi Minho!” panggilnya membuat Minho terbuyar dari pikatan pesona Sulli.

                “Sulli-ya!” jawab Minho segera, sembari melambaikan tangan. Tak ada satupun orang yang tahu betapa bahagianya Tuan Choi sekarang.

                “Hyung!!” Suara lembut Sulli berubah drastis, menimbulkan suara seorang namja yang sepertinya tak asing lagi di telinga Minho. “Come on hyung. Sadarlah, ireonna palli.”
                “Choi Minho, wake up!” suara yeoja setengah namja.

                “Minho-ya, irreonna.” Kali ini Suara seorang yeoja, tepatnya seorang ahjumma.

Sinar putih datang, serasa akan membutakan mata Minho. Bayang-bayang Sulli perlahan menghilang tertutup cahaya yang lebih putih dari kulit saljunya. Yang terakhir Minho lihat adalah senyum cerahnya, senyum yang takkan pernah Minho lupakan. Takkan pernah.

                “Eomma...” ucap Minho lirih, serak dan pelan namun mampu membuat semua orang yang berkumpul di tempat itu berpaling dari kegiatan mereka dan mulai terperangah dengan apa yang mereka dengar barusan.

                “Minho-ya... akhirnya kau kembali.” Ahjumma yang kini tengah menatap lembut Minho memeluk Minho yang masih terbaring di atas tempat tidurnya. Walaupun sebelumnya Minho mengira ia ada di rumah sakit ataupun ruang mayat, ternyata dugaannya salah. Ia kini terbaring dalam kamar tidur miliknya sendiri. Dipeluk oleh seseorang yang ia benci selama bertahun-tahun.

                Minho membalas pelukan eomma-nya. Memperdalam pelukan pada eomma yang sangat ia benci namun ia rindukan. Ya. Tak butuh berabad-abad bagi Minho untuk mengabaikan eomma-nya. Kehilangan Yeojachingu yang dicintai untuk selamanya membuat Minho menyadari betapa berharganya seseorang yang mencintainya dengan setulus hati. Seperti hati eomma-nya yang kini menangis bahagia di dalam dekapan Minho.

                “Hyung! Akhirnya kau bangun.” Ucap seorang namja dengan wajah cantiknya yang kian hari semakin mempesona. Taemin.
Minho memandang satu-persatu orang yang kini tersenyum lega saat menatap dirinya. Eomma, Appa, Taemin, Key, Jonghyun, Onew, Siwon,  Amber, Luna... mereka... ada disini untuk Minho. Wajah-wajah ini otomatis membuat Minho tersenyum. Betapa Sulli meninggalkan pengaruh besar untuknya, ia menyadari betapa banyak yang menyayanginya walaupun dirinya selalu meninggalkan luka bagi orang lain.ya, playboy... beruntunglah, Sulli datang mengubah hidupmu Choi Minho.

                “Bagaimana kalian bisa menemukanku?” tanya Minho, masih penasaran dengan kejadian yang mungkin ia lewati selam ia pingsan.

                “Itu gampang saja, aku menduga kau pasti pergi ke tempat pertama kalinya kau melihat Sulli kan?” jawab key, masih dengan nada sok tahu yang di buat2. Ah, Namja ini memang cerdas.
                “Ommo, kau ini! Gampang bagaimana? Kita hampir pergi menjelajah Seoul untuk menemukan Minho.” Sahut Jonghyun yang seketika membuat wajah key terlihat masam.

                “Ne, kami menemukanmu pingsan di tempat itu. Aku menduga kau tersandung akar pohon yang besar  kemudian kepalamu terbentur kursi kayu itu, hingga kau pingsan dan kami pun menemukanmu disana...” Choi Siwon  akhirnya angkat bicara. Oppa kandung Sulli yang juga sudah Minho anggap sebagai hyung-nya.

                ‘Sebentar, ada yang salah. Akar pohon? Kursi kayu?’ Minho mengernyitkan dahinya. “Aku jatuh bukan karena tersandung hyung. Aku tergelincir oleh lantai yang berlumut.” Ujar Minho memperjelas kesalahan prediksi dari mantan calon kakak iparnya.

                “Aish!! Bocah ini! Di saat seperti ini, kau masih saja bisa bercanda. Bagaimana ada lantai berlumut di tempat seperti itu.” Ambigu. Minho tidak mengerti apa yang Onew katakan.
                Siwon pun menanggapi dengan bijak “Onew-Ssi... benturan di kepalanya mungkin saja membuat ia lupa bagiamana ia bisa terjatuh dan dimana ia terjatuh.”

                Minho semakin mengernyitkan dahinya. “Mwo?” hanya itu yang mampu Minho ucapkan.
Key yang  mengerti keadaan langsung mengambil alih dan memperjelas pada Minho “Minho-ya, kami memukanmu tergeletak di atas tanah dan dedaunan di tempat biasanya Sulli menunggu jemputan. Apa kau lupa jika kau terjatuh di tempat itu?”

“....” hening.  Minho harus jawab apa? Yang Minho tahu ia terjatuh di sebuah gubuk karena tergelincir setelah ingin menghancurkan sebuah cermin ‘aneh’ dengan tendangannya. “yang aku tahu aku terjatuh di...”

“Sudahlah... tak penting Minho terjatuh dimana. Yang terpenting Minho sudah ditemukan dan ia dalam keadaan baik-baik saja. Sebaiknya kita memberi waktu pada dirinya untuk beristirahat.” Bijak sekali. Minho memperhatikan appa-nya yang bicara dengan penuh kharisma. Mempesona.

“Appa Minho benar, ahjumma akan mempersiapkan sarapan untuk kalian dan Minho. Kajja, biarkan Minho menenangkan pikirannya dulu.” Ajak eomma Minho dan semua kepala disana mengangguk setuju, menuruti dengan hormat perintah eomma Minho.

Saat semua sudah mengangkat kaki dari kamar Minho, Minho hanya dapat memejamkan mata dan berpikir keras. Apa semua hanya mimpi? Cermin itu... gubuk itu... suara itu... mimpi kah? Minho pun mencoba bangkit berdiri dari posisi rebahnya, namun gerakan itu terhenti. Sakit yang luar biasa di sisi kanan kepalanya membuatnya mengurungkan niatnya untuk berdiri dari tempat tidur.

“Appow...” rintih Minho seraya memegang sisi kanan kepalanya. Minho mencoba meremas tangan kanannya,sakit...  di remasnya juga bagian luar kaki kanannya, sakit... Minho mendesah pelan.
“Siwon hyung... bagaimana seseorang yang jatuh karena tersandung akar malah merasakan sakit di seluruh bagian kanan badannya bukan bagian depan badannya? Aigoo.”

Minho berusaha untuk mendudukan dirinya di tepi ranjang, walau denyut di kepalanya bagai dentuman yang memaksanya untuk kembali tidur. Di jelajahinya seluruh ruangan dengan sorot matanya yang sayu. “Jika ini memang nyata, dan aku masih hidup... sudah selayaknya cermin itu mengabulkan permintaanku. Aku akan menunggu Sulli kembali. Dia pasti kembali.”

****
“Semua katakan KIMCHI!!”
 “KIMCHIIIIIII!!!!!”
“Yeaaah!” sorak sorai kebahagiaan menggema. aura suka cita mewarnai suasana di aula itu. Wajah wajah gembira, mata yang menangis karena terharu, pemuda-pemudi yang tengah memeluk appa dan amma-nya masing-masing. Ada pula yang memeluk sahabatnya, saudaranya, juga teman seperjuangan selama menempuh pendidikan di universitas ini, tepatnya di fakultas ekonomi jurusan Manajemen Bisnis, jurusan yang diambil Choi Minho dan menempuh pendidikan selama 3 setengah tahun.

                Cukup lama memang. Mengingat setengah tahun telah berlalu sejak kekasih yang ia cintai pergi meninggalkannya. Berdampak besar pada langkah Minho yang sempat terhenti dan menunda program wisudanya.

                Namun sekarang, disinilah Minho berdiri. Di tengah kerumunan peserta wisuda lainnya. Memakai seragam kebanggaan, menunjukkan pada orang lain ia mampu melangkah lagi walau sempat terjatuh. Seorang Choi Minho yang tangguh, dengan sejuta pesona yang terpancar alami dari dalam dirinya. Siapa yang tak jatuh cinta? Semua yeoja menggilainya.

                Saat semua yeoja menaruh harapan untuk dapat bersanding dengan namja yang nyaris sempurna ini, hati sang namja masih tertinggal di tempat lain. 6 bulan, untuk Minho adalah 1 detik. Iya takkan pernah bosan mencintai putri salju-nya. Menunggu Sulli kembali. Kembali?  Bagaimana daun yang gugur dapat menjadi segar dan hijau kembali? Minho, berpikir waraslah.

                “Minho-ya...” sebuah telapak tangan hangat menyentuh pundak Minho, menyadarkan Minho dari lamunannya. “Chukkae, kau yang terbaik.”

                “Ne eomma. Gomawo.”  Demi apa, Minho benar2 menyayangi mahkluk di hadapannya ini. Mahkluk yang disebut ibu. Dipeluknya erat eommanya yang tersenyum bahagia. Menyandarkan dagunya pada bahu eommanya dengan manja. “Eomma adalah yang terbaik. Jeongmal gomawo.”
               
                Eomma Minho melepaskan pelukan manja sang anak. Memegang wajah maskulin Minho dengan kedua telapak tangannya. “Ommo... putra kesayangan eomma terlalu banyak mengucapkan terima kasih.” Seulas senyum manis muncul lagi pada wajah Minho. Ini adalah hari baik. Ia menyukai hari ini.

                “Yeobo... Minho-ya... kita harus mengambil foto keluarga. Kajja.” Suara bass appa Minho mengganggu acara mesra antara Minho dan eommanya.  Appa Minho segera mengambil posisi disebelah kanan Minho, dan eomma-nya di sebelah kiri Minho.
“Hana, Dul, sae!”
JEPREET “Satu kali lagi!” seru fotografer pada keluarga Choi.
“Aku ikut!” suara ini, suara seorang dokter kandungan yang sangat Minho hormati. Onew Hyung.
“Aku juga!” Taemin.

Tanpa Suara, Jonghyun dan Key sudah menyerobot mencari posisi yang tepat. Diam dan menghanyutkan. Dasar Key dan Jong.
Ahjushii fotografer sempat dibuat bingung oleh pemandangan yang ia lihat. Ribut, mereka semua tak bisa diam.

Eomma Minho yang cekikikan dan Appa Minho yang sibuk menarik kuping namja-namja jahil ini satu persatu. Minho tertawa lepas, sahabat-sahabatnya ini sudah menginjak umur yang dikategorikan dewasa, namun tetap saja konyol dan kekanak-kanakan.
“Hana, Dul, Sae”

JEPREEET

Satu lagi foto yang akan Minho pajang di dinding kamarnya. Foto dirinya bersama appa dan amma juga bersama SHINee, geng dengan persahabatannya yang akan terus bersinar.
               
Minho memperhatikan eommanya yang kini tengah bersenda gurau bersama sahabatnya. Eommanya dengan mudah berbaur bersama mereka. Cantik, ceria, namun tetap terlihat elegant. Aura wanita dewasa dan terhormat memancar dari diri eommanya.  Entahlah siapa yang beruntung, appa minho yang memiliki eommanya atau eomma Minho yang memiliki appanya.

“Jadi inikah alasan appa tidak menikah lagi walau eomma pergi sangat lama?” tanya Minho membuat appa Minho yang juga sedang memperhatikan eommanya menjadi tersipu malu. “Dari dulu appa yakin eomma tak seburuk itu kan?”

                “Ne, Minho-ya. Appa hanya masih belum yakin eomma mu tega berselingkuh. Yang appa tahu, eomma sangat mencintaimu juga mencintai appa.”
                “itu curang”

                Appa Minho menautkan kedua alis, menatap heran sang putra “mwo?”

                “Itu curang. appa mencintai dan menunggu eomma secara diam-diam. Membiarkanku tumbuh besar dan membenci eomma hanya karena kesalahpahaman. Itu sangat curang.”
                Appa Minho menatap dalam mata Minho. Rasa bersalah ada disana. Rasa bersalah seorang anak.

                “Mianne Minho-ya. Appa juga tidak menyangka eomma mu akan kembali membawa kenyataan yang sebenarnya terjadi.  Appa juga tidak emnyangka penantian appa selama ini tidak sia-sia.”

                “Sejak dulu appa tetap menunggu eomma kembali?”
                “Ne, Menunggu memang melelahkan asalkan kau percaya... keajaiban bisa saja terjadi buktinya eomma-mu kembali”

                “Hm, menurut Appa... apakah jika kau menunggu seseorang yang sudah benar2 pergi jauh ia akan kembali suatu hari nanti?”

                “...” Diam. Appa Minho tak bisa menjawab pertanyaan Minho. Appa Minho tahu jelas siapa yang Minho maksud. Yeoja cantik yang telah wafat 6 bulan lalu, yeoja yang sangat putranya cintai, Choi Sulli.”

                “Minho-ya...”

                “kkkk~” Minho terkekeh sebelum appa-nya benar2 ingin memberi sebuah jawaban.  “waeyo? Kenapa appa terlihat gugup? Why so serious appa...? aku hanya bercanda. Aku sudah menerima kepergian Sulli.”

                Appa Minho menghembuskan nafas kelegaannya.
Angin menghembus lembut, Minho menarik nafas menghirup udara segar untuk memenuhi dadanya yang serasa sakit sejak tadi. “aku sudah menerima dengan ikhlas kepergiannya, dan disaat yang sama aku berharap ia cepat kembali...”

****

                Siang telah berlalu. Matahari sudah tak lagi menggantung tinggi di langit yang menaungi kota Seoul. Kini setiap anak muda terlihat mondar-mandir di jalanan kota. Sore hari memang saat yang tepat untuk berjalan-jalan. Mengingat malam begitu dingin, dan pagi menjadi jam-jam yang sangat sibuk bagi beberapa orang di kota Seoul.

                Sama halnya dengan Minho yang akan menghabiskan waktu senggangnya di sore hari ini dengan berkunjung ke sebuah cafe favoritnya. Cafe yang lumayan jauh dari rumahnya, cafe yang menyimpan banyak kenangan, cafe yang menjadi tempat untuk pertama kalinya ia bicara pada seorang Choi Sulli, Cafe yang menjadi tempat terakhir ia menatap wajah Sulli dengan mata yang masih terbuka dan berbinar seperti permata. Cafe adore, Tempat yang spesial bukan?

                Minho membuka perlahan pintu mobilnya. Meraih beberapa buku bacaan yang ia bawa dan membawanya keluar dari mobil merahnya. Buku adalah teman Minho sekarang. Ia terbiasa untuk datang ke cafe itu untuk sekedar menghirup cappucino panas dan membaca beberapa buku untuk menikmati waktu senggangnya.

                Ah, Minho beruntung memiliki orang-orang pengertian yang mengitarinya. Mereka tak banyak menuntut. Meminta ini dan itu untuk perayaan hari wisudanya. Mereka tahu persis, Minho akan pergi ke cafe ini, merayakan hari bahagianya di tempat favoritnya dan tempat bersantai favorit Sulli juga.

                Minho melangkahkan kakinya perlahan mendekati bangunan cafe yang terkesan elegant itu. Dipandanginya bayangan remangnya yang terpantul dari kaca yang menutupi cafe.  Minho terus berjalan lurus seraya menoleh ke arah samping, masih memperhatikan isi dari cafe itu dari balik kaca. Untuk apa? Minho juga tidak tahu, hanya tidak ada kerjaan saja.

                Saking asyiknya Minho menatap ke balik kaca dindin cafe, ia tak menyadari seorang yeoja tengah memperhatikan dirinya dari kaca spion mobil hyundai pink miliknya. Yeoja itu bergegas keluar dari mobilnya dan secara diam-diam menyamakan langkah kakinya dengan langkah kaki Minho
Yeoja itu berhitung dalam hati ‘1... 2... 3...’

BRUKK!

Keduanya bertabrakan. Cukup keras, karena yeoja itu berjalan dengan cepat tadinya.
Belum terlambat, Minho dengan sigap merangkul pinggang yeoja itu, menahan bobot badannya agar tidak terjerembab ke permukaan tanah.
Yeoja itu memekik kaget, atau mungkin pura-pura kaget, dirangkulnya leher Minho. Eye contact,skinship.

Jantung Minho berdegup secara tak biasa,berdegup di atas normal. Ia tak percaya dengan apa yang ada di hadapannya.
Mata yeoja ini... bibirnya... wajahnya... dia SULLI???
Minho terkejut bukan main, ia segera berdiri dengan benar seraya membantu yeoja yang tengah terlihat kaget dihadapannya untuk berdiri dan menahan bobot badannya sendiri.

“Gwenchana?” tanya yeoja itu. Demi apa! Minho hanya dapat menganga menatap yeoja ini. Sulli bangkit? Bangkit dari abu hasil kremasi? “Hello... are you okay?” ulang yeoja itu setelah melihat ekspresi Minho yang ‘aneh’.
“Su-Sulli-ya? Ini kau Sulli-ya? Choi Sulli?”  tergagap. Minho tak bisa menjelaskan perasaannya sekarang.

“Mmm, marga ku memang choi... tapi namaku bukan choi Sulli. Aku, Choi Jinri.”
Degupan jantung Minho perlahan memudar. “jeongmal?”
“Ne. Mianne sudah menabrakmu” yeoja itu membungkukkan badannya pada Minho. Minho memperhatikan yeoja bernama Jinri itu dari ujung kaki hingga ujung kepalanya.

Memang sangat mirip dengan Sulli. Tapi, Sulli memiliki rambut panjang sepinggang. Tidak dengan Jinri yang berambut pendek sebahu yang dicat merah maroon. Kontras dengan kulit putihnya. Style mereka juga berbeda,. Satu lagi perbedaan yang mencolok, jika Sulli terlihat innocent... yeoja dihadapan Minho ini jauh terlihat lebih..... rrrrr, sexy.
Minho akui itu. Ia menelan ludah melihat yeoja bertubuh semampai itu dalam balutan dress hijau kebiruan yang mengekspos kulit putih mulus pahanya yang  jenjang. Yeoja yang anggun dan jauh terlihat lebih dewasa dari Sulli.

“Mianne,hanya saja kau terlihat mirip dengan seseorang.”

“Nugu? “

“Ah, aniya itu tidak penting...” Minho merunduk, mengambil buku-bukunya yang berserakan karena terjatuh saat ia menabrak Jinri.
Jinri juga memungut buku-bukunya yang ikut berserakan karena lepas deri pegangannya saat hampir saja terjatuh.
“aku akan masuk duluan.” Minho membungkukkan badan dan kemudian berlalu meninggalkan Jinri yang kini berdiri canggung sambil mendekap erat buku-buku dalam pelukannya.

Minho mengambil tempat duduk di slah satu meja di sisi dinding kaca cafe. Perasaannya masih tidak tenang. Wajah yang ia lihat barusan terlalu mirip dengan wajah kekasihnya. Ia menjadi resah sendiri. Hingga seorang billboy datang dan menanyakn pesanannya. Membuat kegalauannya menepis seketika.

“annyeong haseyo, apa yang anda pesan?”

“ hot americano dan tiramisu.”

“ada yang menitipkan note ini pada tiuan.” Billboy itu memberikan selembar kertas kecil. Ada tulisan disana. Minho membaca satu persatu kata yang ditulis dengan tangan, tulisan yang bagus... tertera disana.

“Mr.Minho, bagaiamana dengan hadiah yang kuberikan? kau suka atau tidak? Pantulan bayanganmu sudah kukirim dengan sukses. Chukkae, permohonanmu terkabul.”
Ttd
Dari : benda yang dulu ingin kau hancurkan...

Kertas itu terjatuh dari tangan Minho.
Hadiah? Permohonan? Benda yang dulunya pernah Minho hancurkan? Minho kelabakan. Ia segera bangkit berdiri dan berlari keluar dari cafe secepat mungkin. Beberapa pasang mata dalam cafe bahkan heran melihat perilaku namja tampan itu.

Minho bearada di depan pintu keluar cafe, nafasnya sedikit tak beraturan. Diedarkannya pandangannya ke seluruh beranda cafe, yeoja yang ia cari sudah tak terlihat.
Yeoja itu kah hadiahnya? Tapi dia bukan Sulli. Minho mendecih, “Sial, namja macam apa aku ini. Sadarlah, dia bukan Sulli. Ia hanya mirip dengan Sulli.”

Minho kembali masuk ke dalam cafe, perasaannya kacau. Ia mencoba menenangkan dirinya, ditariknya nafas dalam-dalam dan dihembuskannya secara perlahan. “Aish, apa mungkin aku berimajinasi lagi? Lalu kertas ini... siapa yang mengirimnya untukku? Tak ada yang mengetahui hal ini selain diriku sendiri.”

Minho mengambil salah satu majalah bisnisnya yang terletak di atas meja. Dan ia menatap bukunya dengan aneh, sedikit kaget. “Ige bwoya? Sejak kapan aku memiliki majalah fashion wanita?” di bukanya lembar pertama, kedua, dan ketiga... matanya terpaku pada sebuah nama yang tercantum disana CHOI JINRI. Editor? Dan personal kontak pun tercantum disana?
Minho tersenyum kecil  “Nampaknya, aku harus mengembalikan majalah ini pada pemiliknya.”

Di tempat lain

Jinri memacu kencang mobil hyundai pink-nya. Wajahnya sedari tadi masam. Wajah cantiknya terlihat sedikit geram. Kesal,  Ditepikannya mobil yang ia kendarai ke tepi jalanan yang lebih lengang.

“Aiiish! Putra Sooman ahjussi  itu tidak mengenalku! Padahal semua namja di kantor mengenalku! Choi Jinri, editor salah satu majalah fashion garapan perusaahan milik appa-nya. Aisssh!” Jinri memukul stri mobilnya berkali-kali. “Victoria Oenni benar, kelihatannya namja bernama Choi Minho ini susah untuk ditaklukan, ia bahkan tak mengajakku makan bersama untuk sekedar basa-basi.”

Jinri meraih wadah bedak dalam dalam tas jinjing pink nude miliknya. Dibukanya dan ditatapnya cermin yang melekat di salah satu sisi tutup wadah bedaknya. “aigoo... apa aku kurang cantik? Aish, aku akan melakukan apapun untuk memenangkan taruhan ini! Aku harus mendapatkan Choi Minho, harus!”

THE END



Hekekekekekekekekek!!!! ;D otthoke?? Ga sad ending kan? Kan? Kan? Authorkan udah janji...  gomawo selama ini yang udah komen, yang udah baca walau ga komen, yang udah komen walau ga baca*loh*, untuk dhea oenni, untuk author lainnya yang ada di minsul blog ini... jeongmal gomawo. Akhirnya mirrors tamat juga ff pertama ciptaan saya... yang gaje dan tidak menarik.  Walau ini chap terakhir, author tetap meminta komen! Komen please...^^ saranghae! :*

37 komentar:

  1. Sekuel . . Sekuel . . Sekuel . . Wakakakakakakakakakak. . .
    :D

    BalasHapus
  2. Seru!!! Ceritanya bales dendam dong haha . Min lanjut dongg kalo gak gue kasih sooman nih/? Hahaa anyway thanks for mirrors min. Such a good ff ^^

    BalasHapus
  3. Seru!!! Ceritanya bales dendam dong haha . Min lanjut dongg kalo gak gue kasih sooman nih/? Hahaa anyway thanks for mirrors min. Such a good ff ^^

    BalasHapus
  4. hahahaha, giliran minho yang dijadiin taruhan. Keren bgt authornim !!
    sequel pleaseee :)

    BalasHapus
  5. sequelnya....
    ffnya daebak...
    walau yaoja itu jinri (alias ssul juga), tapi hati tetep g terima mino ama jinri *loh*

    BalasHapus
  6. ffnya daebak (y)
    eon, buat squelnya dong :)

    BalasHapus
  7. Waaaaaah..... seru seru seru...
    Sukaaaa banget sama ceritanya.Unik deh.Kenapa Minho gak sama Jinri aja? Wkwkwk.Bener-bener bikin gereget FFnya.Ditunggu FF selanjutnya.Terus berkarya untuk FF minsulnya ya... :)

    BalasHapus
  8. endingnya agak mengantung bagi nae -_-
    masa jadi kebalikannya ntr minonya pula yang mati *gubrakk astajim
    (__ __'!|)
    sekuel tp jangan yang aneh" lagi bisa saya terror -A-" NONONO
    Ssulnya jadi mino minonya jadi ssul -A-" ok sip
    dan sullinya playgirl -,- NO sekali

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menggantung? Tarzan dong? Kdkekek. Kan authornya janji ga sad end. Gantung end ga papa kn?wkwk

      Hapus
    2. iya cuma agak aja gapapa :3

      Hapus
  9. wkakakaaaa... ni ending udah saya tebak lama tapi saya gag mau takabur bisa nebak #abaikan

    setuju ama deee eoncom SEKUEL WAJIB >_<

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ikutin gue aja lo jo. . Ah elah . . :p

      Hapus
    2. Haha-oenni emang daebak. . . . Udah kaya peramal xD

      Hapus
  10. keren thor, happy ending, tapi agak gantung thor.. squelnya ditunggu ya :))

    BalasHapus
  11. iyaaa Daebak eonnie
    arg , akirnya bener-bener happy ending ,
    tpi knapa sulli jdi berbalik begitu?
    ne, eon , bener , ceritanya kurng tuntas nih
    Sequel... sequel.....sequel:D.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kurang tuntas? Wkwk. Imajinasi oenni udah stak disitu aja ceritanya^^

      Hapus
  12. yahh eon :(
    buat squelnya dong.
    yah.yah.yah :)
    crtanya msih ngegantung bnget nih.

    jebal ^^

    BalasHapus
  13. Kereeeen ;A; kalo bisa buat sequelnya dong~ eonnie daebak! Keep writing eon!

    BalasHapus
  14. MWO?kok jadi gni critanya?aish,,, ._. authornya daebak bkin critanya, tp ttep nyesek thor...itu bkn Sulli dlu yg Minho cintai yg bersama Minho, nyesek.. critanya bls dendam tuh? Sulli taruhan sm F(X) gitu ye?wkwkwkw... sequelnya sequelnya sequelnya :3

    BalasHapus
  15. aduhhh,, sampai nangis udah baca hikshikshikshiks,,, TT_TT ..... komen : kok ceritanya malah jadi gini akhirnya,,, aku takut kalau jinri itu menangin taruhan , lalu oppa jatuh cinta padanya , lalu akhirnya oppa pergi selama lamanya ,,,hikshikshikshiks,, nggak mau ngebayangin ,,, Buaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhh TT_TT

    BalasHapus
  16. tapi , ceritanya seru..! maksih yachhh,,.. :)

    BalasHapus
  17. Ceritanya seru banget thor tapi ngegantung tuh :(

    BalasHapus
  18. ya ampun seneng sih ada jinri tapi.. akhirnya kurang muasin nih :/ ngga jelas minho dapet jinri apa enggak, ayo dong author yg baik dan cantik buat sekuelnya plisss :(

    BalasHapus
  19. Mirror daebak, dari awal alur ceritanya keren, dan akhir nya unpredictable.....hwaaaaaa ..and whaaaat, ff pertama? bahkan yang pertama sekeren ini.....keren keren keren dah pokoke.....

    BalasHapus
  20. seperti gantian yah, dulu minho skrg sulli eh salah skrgjinri

    BalasHapus

 
Choi Minho & Choi Sulli Couple FanFiction Blogger Template by Ipietoon Blogger Template