Selasa, 10 September 2013

Because, Love is Simple . . .


Title : Because Love is Simple. .

Author : Wiwit_H ( author baru, yeaaay ^^ )

Main Cast : Choi Minho, Choi Sulli


Other Cast : Kang Ji Young and Others


Genre : Romance and Friendship


Length: OneShoot


Sulli’s POV

Malam ini cukup banyak e-mail yang masuk dalam kotak masukku, beberapa berasal dari teman-teman kampus yang isinya sudah dipastikan menegenai tugas kampus yang akhir-akhir ini benar-benar cukup menyita perhatianku. Aku pun mengecek satu persatu isinya dan sampai pada salah satu e-mail aku langsung tersenyum dan tertawa geli melihat isinya.

“…masih ingat aku hey teman kecil…?”
11.00 p.m,  aku masih tetap menatap layar monitor laptop pink kesayanganku, yap benda ini yang selalu setia menemaniku beberapa hari belakangan ini. Sunyi, sepi, sebagian orang mungkin sudah tertelap tidur, sambil menyeruput secangkir hot chocholate, aku kembali ke aktifitasku yang semula. Menyelesaikan beberapa tugas akhir kampus yang sudah harus aku kumpulkan minggu depan.

Tak lupa aku segera membalas e-mail yang berasal dari “teman kecilku”

“…Annyeong Hasseo Jiyoung-ah ^_^ …”

Aku segera menekan tanda send, dan kembali berkutik mengumpulkan beberapa informasi penting mengenai tugas akhirku ini. Tak lama berselang kulihat ada satu pesan masuk baru dan segera kubuka isinya

“…Yak kau masih ingat denganku? Aku kira kau sudah melupakanku…”

“…Jiyoung-ah mianhae, beberapa hari belakangan ini aku sibuk mengerjakan tugas akhir dan tak sempat berkomunikasi denganmu. Kau bercanda? Mana mungkin aku melupakanmu. Bagaimana kabarmu Jiyoung-ah?...”

“…Aku baik-baik saja Sulli-ya. Kabarmu bagaimana disana? Kapan kau mau pulang ke Korea? Minho merindukanmu :D …”
 Mendengar namanya lagi, membuatku menghentikan sejenak aktivitasku, membuka semua memori lama yang tersimpan dengan rapi dalam ingatanku, aku pun mengingat kembali masa lalu itu


*flashback on

“Sulli-ya, besok kita berangkat ke amerika ne, appa dipindah-tugaskan mengelola cabang perusahaan disana” ucap appa sesaat setibanya dirumah.

“mwo? Besok appa?” ucapku terkaget-kaget
“Apa tidak bisa minggu depan? Bulan depan? Tahun depan appa?” tanyaku lagi.

“Anniya Sulli-ya, appa harus cepat-cepat mengurus perusahaan jadi lebih cepat lebih baik.” Ucap appa sambil tersenyum padaku
“Pasport dan surat-surat kepindahan lainnya sudah diurus perusahaan. Jadi kita tidak usah repot mengurusinya lagi.” Ucap appa pada eomma.

“Syukurlah kalau seperti itu, Sulli-ya gwenchana?” tutur eomma sambil mengusap-ucap rambutku yang dikuncir dua.

Aku hanya dapat menggeleng pelan. Yap seorang anak kecil berusia enam tahun yang tak tahu apa-apa soal kepindahan tugas appanya, yang aku tahu pasti akan berpisah dengan teman-teman disini. Aku hanya takut kehilangan teman-temanku.

“kapan kita pulang lagi ke Korea appa? Bulan depan? Tahun depan?” cerocosku lagi.

“Sulli-ya” panggil appa lalu jongkok berusaha mensejajarkan dirinya denganku.

“Ne appa?” jawabku sambil tersenyum.

“Kita akan kembali ke kesini secepatnya bila perusahaan yang di Amerika sudah stabil” jawab appa dengan lembut.

“Stabil itu apa?” tanyaku polos.

“Stabil itu kalau perusahaan yang appa kelola sudah sehat dan tidak sakit lagi, Sulli-ah arraseo?” tanya appa lagi

“Arraseo appa, berarti saat ini perusahaan appa sedang sakit dan appa sebagai dokternya mengobati perusahaan itu yak kan appa?” jawabku mencerna maksud appa.

“Ne anak pintar, jadi kau mau kan pergi ke Amerika Sulli-ah? Nanti appa akan berikan hadiah” ucap appa sambil duduk menikmati secangkir kopi yang dibuat eomma.

“Ne appa, perusahaan appa perlu ditolong agar cepat sembuh, lagi pula ini tak lama kan appa. Appa juga tak perlu memberikanku hadiah ne, kalau begitu aku mau mengabari jiyoung dan minho dulu bolehkan appa eomma?” ucapku sambil memohon.

“Yasudah tapi jangan lama-lama ne, kita harus siap-siap” ucap eomma sambil setengah berteriak.

Aku pun berlari keluar rumah, ke seberang jalan menuju rumah jiyoung. Pertama, aku ke rumah jiyoung berpamitan padanya lalu sehabis itu baru menuju ke rumah minho.

“Jiyoung-ah” sapaku dari luar rumah.

“Ne Sulli-ya wae? Apa kau mau mengajakku bermain lagi? Ini sudah sore sulli-ah, eomma pasti marah nanti” jawab jiyoung diambang pintu.

“Anniyo Jiyoung-ah, aku mau pamit” jawabku singkat sambil memamerkan deretan gigi putihku.

“Kau mau pergi kemana Sulli-ya? Mau pergi ke mall? Kenapa kau harus pamit?” tanya jiyoung tak mengerti.

“Aku mau ke Amerika Jiyoung-ah” jawabku lagi
“Amerika? Dimana itu? Apa itu nama mall baru Sulli-ya? Apa aku boleh ikut kesana?” cerca jiyoung sambil beraegyo padaku.

“Yak jiyoung-ah hentikan aegyeomu itu, aku bukan mau pergi ke mall. Amerika itu tempat appaku bekerja, aku mau ikut appa mengobati perusahaannya yang sakit” jelasku pada jiyoung.

“Appamu sekarang jadi dokter Sulli-ya ?” tanya jiyoung takjub.

“Seperti itulah. Kajja temani aku kerumah minho, aku juga mau pamit padanya” ajakku pada jiyoung.

“Ne Sulli-ah kajja, eommaaaaaaaaaa”.
“Aku pergi sebentar ke rumah minho ne” ucap jiyoung berteriak pada eommanya
“Sulli-ya kau tak akan lama pergi ke amerikanya kan?” tanya jiyoung.
“Tadi appa bilang secepatnya akan kembali kesini. Kalau perusahaan appa sudah sembuh aku pasti langsung pulang ke korea jiyoung-ah” jawabku mantap.

“awas saja kalau kau lama, aku tak mau lagi beteman denganmu sulli-ya” ancam jiyoung.
Aku hanya dapat tersenyum mendengar reaksi jiyoung. Aku dan jiyoung pun sudah sampai didepan rumah minho.

“Minho-ya” panggilku dengan kencang.
“Minho-ya” panggil jiyoung meniru ucapanku.
“Minho-ya, Minho-ya” panggilku lagi namun belum juga ada jawaban.

“Jiyoung-ah sepi sekali, minho pergi kemana ya?” tanyaku sambil melihat kaca jendela rumah minho.

“Aku juga tak tahu sulli-ya, mungkin dia sedang pergi keluar. Tadi sehabis main aku lihat dia berpakaian rapi” jawab jiyoung
“lalu bagaimana aku pamit padanya?” tanyaku pada jiyoung.

“Bagaimana kalau besok pagi saja sulli-ya?” jiyoung memberi ide.

“aaaaaaa.. kau benar jiyoung-ah, kajja kita pulang” ajakku pada akhirnya.

Aku dan jiyoung pun berpisah, aku segera pulang ke rumah bersiap-siap sebelum besok berangkat ke amerika.


Keesokan harinya ~

“Sulli-ya kau sudah siap?” tanya appaku sambil menenteng beberapa koper.
“Ne appa,  bolehkah aku ke rumah minho dulu sebentar? Aku belum pamit dengannya appa” pintaku.

“Yasudah, kajja kita berangkat sekalian berpamitan dengan jiyoung dan minho” jawab appa sambil menggandengku
“Ne appa, eommaa kajjaaa” panggilku
“Ne sulli-ya” jawab eomma.

Appa dan eomma menaruh beberapa koper di garasi taxi. Tak lama, aku, appa dan eomma berpamitan ke tetangga-tetangga dekat rumahku. Salah satunya ke rumah jiyoung dan minho.

“Sulli-ya, jaga dirimu baik-baik ne” ucap jiyoung sambil menahan tangisnya tetapi akhirnya tumpah juga.

“Jiyoung-ah, jangan menangis ne, aku hanya sebentar ko ke amerika” ucapku sambil menyeka air mata jiyoung.

“Sulli-ya jangan lupakan aku ne” ucap jiyoung sambil sesegukan.

“Anniyo tak akan pernah jiyoung-ah, kau, aku, minho kita teman selamanya, jiyoung-ah uljima ne” ucapku berusaha tak sedih didepan jiyoung.

Aku berusaha tak memunculkan rasa sedihku didepan jiyoung. Aku sebenarnya sedih bepisah dengan teman-temanku.

“jiyoung-ah” panggilku

“Ne sulli-ya wae?” tanya jiyoung

“Aku titip ini ne” ucapku sambil memerikan sepucuk surat pada jiyoung.

“untuk siapa sulli-ya? Untukku?” tanya jiyoung bingung.

“anni jiyoung-ah, ini untuk minho. Semalam aku tak mendengar dia pulang kerumahnya sepertinya dia pergi menginap bersama eomma dan appanya. Tadi aku juga sudah ke rumahnya tapi tetap masih tak ada orang jiyoung-ah” jelasku pada jiyoung.

“ooo arraseo arraseo sulli-ya” jawab jiyoung sambil menangguk-angguk.
“Sulli-ya kajja, kita bisa ketinggalan
pesawat nanti” ucap appa memanggilku.

Akhirnya aku bergegas menuju taxi dan masuk kedalamnya. Sebelum pergi, aku membuka sedikit kaca mobil, sekedar mengucapkan pamit pada jiyong lagi.

“Jiyoung-ah aku pamit ne, sampaikan salamku pada minho ne, annyeong jiyoung-ah” ucapku sambil melambaikan tangan.

“Sulli-ya hati-hati, jaga dirimu baik-baik disana ne” ucap jiyoung mengiringi kepergian taxi yang kutumpangi.
*flashback off

Kini usiaku telah genap menginjak dua puluh tahun, berarti peristiwa itu sudah hampir empat belas tahun yang lalu. Aku masih berhubungan baik dengan jiyoung tetapi lain dengan minho. Semenjak aku pergi dari korea, tak pernah sekalipun dia berkomunikasi denganku, ataupun hanya sekedar menanyakan kabarku saja pun tidak pernah. Aku tahu, mungkin minho marah padaku karena aku tidak pamit langsung padanya.
Aku teringat e-mail dari jiyoung yang belum aku balas, segera aku menatap layar laptopku kembali.

“…Jiyoung-ah aku baik-baik saja disini. Pulang ke Korea ? Entahlah tak tahu kapan. Minho ? Sudahlah Jiyoung-ah kau jangan mengada-ngada. Dia saja tak pernah menanyakan keadaanku bagaimana mungin bisa dia merindukanku -_-…”

“…Cepat kembali, aku dan minho benar-benar merindukanmu Sulli-ya  …“

“…Kau dulu pernah janji Sulli-ya kau tak akan lama-lama disana, tetapi sudah empat belas tahun kau tinggal disana apa itu belum cukup lama Sulli-ya? Kajja kita main sama-sama seperti dulu lagi Sulli-ah…”

“…Yak Kang Jiyoung mengapa kau seperti ini, itu kan ucapanku ketika usiaku masih enam tahun. Dulu mana aku tahu kalau aku akan lama tinggal di Amerika. Main sama-sama seperti dulu lagi, apa masih bisa Jiyoung-ah? Sekarang kita sudah sibuk dengan kegiatan masing-masing. Minho… Apakah dia sudah lulus Jiyoung-ah?...”

“…Nah maka itu aku merindukan saat-saat kita main dulu Sulli-ya. Masih ingat rumah pohon? :D Ayo kita ulang masa-masa itu Sulli-ya, cepat pulang ke Korea ne. Minho, hmm saat ini dia bahkan sudah menjadi seorang eksekutif muda, sibuk sekali dia hingga akhir-akhir ini jarang berkunjung ke rumahku…”

“…Rumah pohon? Aaaa aku ingat itu hahahaha, kau mengingakanku ketika kau merengek-rengek tak bisa menaiki rumah pohon, jelek sekali ekspresimu Jiyoung-ah :P Oooo minho sekarang sudah sukses ya Jiyoung-ah :D…”

“…Sulli-ya jangan kau ingat-ingat peristiwa yang itu -_- masih ingat saat kita menulis harapan ? Sulli-ya, minho saat ini makin tampan lho :D ^_^…”

“…Harapan ? Ah ne aku ingat Jiyoung-ah. Dulu kita janji akan membukanya ketika kita semua sudah lulus kan ? Minho malah mendahului kita -_- Dia ikut program akselerasi? apa kita masih perlu membuka harapan itu Jiyoung-ah? Yaaak jangan-jangan kau ini menyukai minho yak Jiyoung-ah? Mengapa ekspresimu begitu senang :P …”

“…Bocah itu terlalu pintar Sulli-ya -_- Aku tak mau tahu, kalau kau sudah lulus nanti cepat pulang ke Korea, kami menunggumu untuk membuka harapan itu, arraseo Sulli-ya?
Anniyo, bukan kau yang menyukai minho sejak kecil dulu Sulli-ya ? :P :P Mengakulah hahahahahahahahaha :D :D wajahmu itu pasti sudah sangat memerah saat ini :P :P …”

Aneh, perasaan ini masih saja muncul padahal sudah kurang lebih empat belas tahun aku tak bertemu dengannya. Mendengar namanya saja tadi aku terdiam seperti ada sengatan yang mengalir dengan sekejap merasuk ke dalam tubuhku. Sekarang ketika Jiyoung meledek aku dengannya perasaanku jadi jauh lebih senang dari sebelumnya. Hey ada apa denganku ?.

“…Jiyoung-ah, disini sudah agak pagi, aku mengantuk, besok aku masih harus kuliah jam pagi. Bye bye. Salam buat eomma dan appamu ne ^_^…”

Aku pun menyudahi aktivitas berkirim e-mail dengan jiyoung. karena waktu memang sudah menunjukan pukul 01.00 a.m. Aku bergegas menuju ranjang tidurku yang empuk, merebahkan tubuhku sejenak dan tak lama aku pun tertidur dengan pulasnya.
Author’s POV
Seoul, Korea Selatan
“…Jiyoung-ah, disini sudah agak pagi, aku mengantuk, besok aku masih harus kuliah jam pagi. Bye bye. Salam buat eomma dan appamu ne ^_^…”
“Yaaak Choi Sulli, kebiasanmu masih belum bisa berubah, setiap aku goda tentang minho pasti kau selalu mencoba untuk menghindar. Jujur saja terus terang padaku, kalau kau masih menyukainya sama seperti saat kita kecil dulu” umpat Jiyoung.

“Padahal aku masih ingin banyak mengobrol dengan sulli, oh iya jam berapa sekarang? 11.00 KST pantas saja disana sudah pukul 01.00 pm” ucap jiyoung sambil mengecek arah jarum jam yang ada dilaptopnya.

“Jiyoung-ah” panggil seorang namja
“Ne, aku disini hey eksekutif muda” jawab jiyoung yang masih menatap layar monitornya, dia kenal betul suara khas temannya itu.

“Jiyoung-ah, aku bosan dengan segala rutinitasku, ajak aku main ne” pinta minho.
“Yak kau tak lihat aku sedang sibuk begini?” tanya jiyoung masih memperhatikan layar monitornya.

“Sejak kapan kau berubah menjadi sibuk Jiyoung-ah? Apa yang kau kerjakan? Kau hanya memperhatikan layar monitormu saja” cerca minho lagi.

“Aku sedang mengirim e-mail pada Sulli Minho-ya” jawab jiyoung.

Minho terdiam mendengar nama sulli. Mengingat kembali namanya, membuat minho kembali membuka lembaran memori lamanya.
*flashback on
“Sulli-ya” panggil minho didepan rumah sulli
“Ne minho-ya wae?” tanya sulli keluar dari dalam rumahnya.
“Kajja ikut aku” ajak minho sambil menggandeng sulli.
“Kemana minho-ya? Kita tak mengajak jiyoung?” tanya sulli lagi.

“Anni hanya kita berdua saja” jawab minho.
Akhirnya sulli pun menurut mengikuti minho pergi menuju tempat yang dituju.
Di Rumah Pohon ~
“Sulli-ya kajja naiklah” ajak minho
“Anni aku takut ketinggian minho-ya kau kan tahu” jawab sulli yang tak mau naik.
“Tenang saja aku akan membantumu naik, percayalah kau tak akan kenapa-kenapa” ucap minho meyakinkan.

Sulli masih diam tak bergeming.
“Kajja, pegang tanganku erat-erat agar kau tak takut naik, kalau hanya perlu pejamkan matamu, aku akan menuntunmu” ucap minho menyulurkan tangannya.

“Ini benar aman kan minho-ya?” tanya sulli lagi masih tak percaya.

“Ne tenanglah ada aku disini, kajja naik, hati-hati, pelan-pelan saja” jawab minho yang masih memegang erat tangan sulli
“Yaak akhirnya sampai juga diatas kan” ucap minho senang.

“Gomawo minho-ya” ucap sulli berterima kasih.

“Untuk?” tanya minho bingung
“Mengajakku kesini, suasananya indah” ucap sulli sambil melihat ke alam luas.
“Ne cheonmanayeo sulli-ya. Sulli-ya, janji ya?” ucap minho ragu.

“Hmm janji apa minho-ya?” tanya sulli tak mengerti maksud minho.

“Janji untuk selalu bersamaku sampai kita dewasa nanti” terang minho.

“Hahahahahahaha apa yang kau bilang minho-ah” tawa sulli meledak.

“Yak saat ini aku tidak sedang bercanda sulli-ya” ucap minho serius.

“Arra arra, ne minho-ya aku janji” ucap sulli tersenyum.

“Ne jeongmal?” tanya minho antusias.
“Ne minho-ya” ucap sulli mengangguk.
“Mana jari kelingkingmu sulli-ya?” tanya minho
“Untuk apa minho-ya?” tanya sulli heran.
“Janji” ucap minho mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking sulli.
“Janji” ucap sulli meniru ucapan minho.
Mereka berdua pun tersenyum senang. Sulli masih asik memandang indahnya langit dari atas rumah pohon, sedangkan minho sibuk dengan aktivitasnya.

“Minho-ya, apa yang sedang kau lakukan?” tanya sulli.

“Mengerat batang pohon” jawab minho.
“Untuk apa minho-ya? Kau ini ada-ada saja” ucap sulli tertawa.

“Sebagai bukti janji kita berdua sulli-ya” ucap minho jujur.

“Lalu apa yang kau tulis?” tanya sulli penasaran.

“Kemarilah lihat saja” ajak minho.
“MIN-SUL FOR-EVER” eja sulli.

“Apa maksudnya ini minho-ya?” tanya sulli tak mengerti.

“Yak sulli-ya begini maksudnya Min adalah aku, nama singkatku dan Sul itu kau, nama singkatmu dan Forever itu artinya untuk selamanya. Jadi artinya Minho dan Sulli untuk selamanya arraseo sulli-ya?” ucap minho tersenyum.

“mana kata-kata “temannya” minho-ya?” tanya sulli.

“aigooo, aku sudah susah payah mengerat batang pohon ini. Sudah kata ini saja sudah bagus tak perlu ditambah kata-kata teman arrachi?” tanya minho.

“Ne ne arraseo” terukir senyum indah diantara mereka berdua.
*flashback off
“Minho-ya,  yaak Choi Minho mengapa kau malah melamun?” tanya jiyoung sambil melambai-lambaikan tangannya didepan muka minho.

“Apa-apan tanganmu ini jiyoung-ah, mengganggu saja” ucap minho kesal.
“Yaaaak harusnya aku yang marah padamu, kau aku panggil-panggil tapi tak menyahut-nyahut dari tadi. Apa ada yang kau sedang memikirkan tentang sulli minho-ah?” tanya jiyoung penasaran.

“Anni” jawab minho singkat.
“Jeongmal ?” ucap jiyoung lagi.
“Ne, sudah lupakan. Aku bilang jangan bahas sulli lagi, dia sudah pergi meninggalkan kita. Kajja temani aku main” ajak minho pergi
“Yak ada apa denganmu minho-ya? Apa kau masih marah dengan sulli karena dia tak pamit padamu?” jiyoung meminta penjelasan.

“Palli jiyoung-ah” ajak minho pergi
“Yak bersabarlah sebentar aku harus memberesi ini semua, lihat ini masih berantakan nanti eommaku bisa-bisa marah. Tunggu sepuluh menit lagi ne arraseo?” tawar jiyoung.

“Ne ne arra jiyoung-ah” ucap minho yang kembali menjatuhkan tubuhnya di ats sofa
“Lagi pula kenapa kau harus marah? Sulli kan sudah menitipkan sebuah surat untukmu dan itu juga salahmu sendiri kenapa kau malah pergi saat sulli mau pindah ke amerika” omel jiyoung sambil menyapu lantai.

“Mana aku tahu kalau dia mau pergi hari itu, dia sendiri yang tak menceritakannya pada kita” jawab minho membela diri.

“Dengar minho-ya, sudah berapa ratus kali aku bilang Sulli terpaksa pindah ke amerika itupun karena appanya dipindah-tugaskan disana. Dia sendiri baru diberi kabar oleh appanya sore sehari sebelum keberangkatannya ke amerika.
Dan kau juga tahu? Apa yang ada dalam fikiran sulli? Dia sedih harus berpisah dengan kita, dia lalu pamit padaku memintaku menemaninya ke rumahmu untuk berpamitan padamu, memanggil namamu hingga tak ada satupun jawaban yang terdengar dari dalam rumahmu.
 Dia pun memutuskan untuk pamit padamu keesokan harinya sesaat sebelum dia pergi tapi apa? Kau masih saja belum juga pulang, untung saja dia menitipkan surat itu padaku untukmu. Apa itu bukan dia pamit padamu minho-ah? Berhentilah bersikap seperti ini, sudah hampir empat belas tahun kau seperti ini, apa kau sendiri tidak bosan minho-ya? Apa kau mau sulli berpaling darimu?” jelas jiyoung.
“Maksudmu Jiyong-ah?” minho mendongak tak mengerti.

“Jangan bersikap bodoh minho-ya, aku ini temanmu, aku tahu sejak dulu kau sudah menaruh hati pada sulli kan? Kau mungkin marah padanya karena dia pergi meninggalkanmu kan? Dengar minho-ya, ini bukan kemauan sulli, dia terpaksa pergi mengikuti kemauan appanya, kelak nanti dia pasti kembali lagi kesini. Kau masih mau bersikap dingin seperti ini terus padanya? Kau tidak takut jika nanti dia kembali dan dia malah mengacuhkanmu? Atau mungkin bahkan dia nanti telah mempunyai seorang namja yang mungkin lebih sayang dan perhatian padanya dibandingkan denganmu minho-ya. Sadarlah” ucap jiyoung mencoba menyadarkan minho.
“Pulanglah, cermati kata-kata yang ku ucapkan barusan. Karena aku ini temanmu, ingat minho-ya kesempatan tak bisa datang dua kali” tutur jiyoung lembut.

Minho terdiam meresapi tiap kata yang diucapkan oleh jiyoung, memang apa yang diucapkan oleh jiyoung benar adanya. Dia pun akhirnya pamit pulang ke rumah, mencoba untuk menstrerilkan suasana hatinya.

*****
Empat bulan kemudian ~
“Permisi sangjangnim ada nona jiyoung mencari anda” ucap sekertaris minho.
“suruh dia masuk” jawab minho dengan pandangan yang masih menganalisa berkas-berkas.

“Ne sangjangnim” ucap sang sekertaris lalu kemudian beranjak pergi.
“Minho-ya Minho-ya” panggil jiyoung kegirangan.

“ Ya ya wae jiyoung-ah? Kenapa kau kegirangan seperti itu? Apa kau baru saja jadian dengan namja idamanmu?” tanya minho tapi matanya masih memeriksa berkat-berkas itu.

“Anni minho-ya, Sulli mau pulang ke Korea” jiyoung tertawa.

“mwo? Sulli?” minho langsung menghentikan aktivitasnya.

“Anni, aku hanya bercanda minho-ya, kau kenapa kaget begitu? Apa kau benar-benar akan senang jika sulli kembali?” tanya jiyoung sambil duduk dikursi yang berhadapan dengan minho.

“apa fikiranmu sudah waras minho-ya ?” jiyoung mulai mengintorgasi minho.
“Ya jiyoung-ah jangan ganggu, aku sedang sibuk, apa ada hal lain yang ingin kau bicarakan? Lihat banyak berkas-berkas yang harus aku tanda-tangani” omel minho.
“Yak Choi Minho, kau selalu saja masih begini. Annyeong aku hanya menyampaikan info oh yak nanti kau harus kerumahku nanti sore. Bye aku pulang” ucap jyoung lalu pergi keluar dari ruangan minho.
At Incheon Airport
“Jiyoung-ah” sapa seseorang dengan suara khasnya.

Jiyoung yang sedang menunggu di bangku pun langsung menoleh ke sumber suara.
“Sulli-ya bogoshipooooo” ucap jiyoung sambil berlari ke pelukan sulli.

“Jiyoung-ah naega jeongmal bogoshiposooo” kemudia, memeluk jiyoung.

“Nado nado sulli-ya”

Sulli pun melirik setiap sudut dibandara incheon seperti mencari sosok seseorang, jiyoung yang menyadarinya pun langsung meledeknya.

“Kau pasti mencari minho, sulli-ya?” ledek jiyoung.

“Aaaniiiyoooo” jawab sulli pelan.
“Minho-ya” teriak jiyoung sambil melambai-lambaikan tangannya ke sembarang tempat yang sukses membuat sulli menengok ke tempat tersebut.

“Benarkan kau pasti mencarinya sulli-ya” ujar jiyoung lagi.

“Tadi aku ke kantornya sulli-ya sepertinya dia sedang sibuk dengan berkas-berkas kantornya jadi dia tidak bisa ikut menjemputmu sulli-ah” terang jiyoung terpancar dari raut muka sulli yang terlihat kecewa.

“Sulli-ya wae? Kau kecewa ya? Tenang saja minho nanti sore tadi dia sudah janji sulli-ya” jiyoung menyemangati sulli.

“Ne kajja kita pulang” ajak jiyoung, sulli pun mengangguk menyetujuinya.
Jiyoung House’s
17.00 KST, Jiyoung dengan sulli masih asik mengobrol ditaman depan rumah sambil memflashback cerita masa kecil mereka membuat keduanya tertawa mengingat kejadian-kejadian yang lalu.

“Sulli-ya” panggil jiyoung.

“Ne wae jiyoung-ya?” tanya sulli sambil melihat-lihat bunga mawar ditaman kecil milik eomma jiyoung.

“Hmm aku penasaran sebenarnya apa isi surat yang kau titipkan padaku untuk minho, hingga membuat minho tiap hari selalu membawanya kemana-mana” cerita jiyoung pada sulli.
“jinjja?” sulli pun kaget mendengar cerita dari jiyoung.

“ne, saat di sekolah minho selalu saja membawa ditas ranselnya hingga kuliah pun begitu” lanjut jiyoung.

“sekarang?” tanya sulli penasaran.
“Yak jawab dulu apa isinya, baru aku mau jawab pertanyaanmu sulli-ah” tawar jiyoung.
Sulli masih diam membisu.

“Oh ya tapi jangan kau bilang-bilang minho ne, aku soalnya berencana melihatnya secara sembunyi-sembunyi lalu karena aku penasaran aku mencoba untuk melihat surat itu eh belum sempat aku buka isinya sudah ketahuan minho, aku jadi tambah penasaran karena minho langsung mengambilnya dariku dan langsung marah-marah padaku. Sejak saat itu aku tak tahu dia masih suka membawanya atau tidak hahahaha” cerocos jiyoung.
“ooo begitu” jawab sulli.

“sudah malam begini minho juga belum kesini, bagaimana kalau kita kerumahnya sulli-ah?” ajak jiyoung.

“hmmm” pikir sulli

“kajja sulli-ya” jiyoung pun menarik paksa sulli ke rumah minho.
Minho House’s
“sulli-ya, kau sudah dewasa sekarang tambah cantik saja” ucap appanya minho.

“ne benar, minho kalau lihat pasti terpesona” ucap eomma minho.

“eomma dan appamu mana sulli-ya?” tanya eomma minho lagi.

“eomma dan appa akan menyusul besok” jawab sulli dengan sopan.

Tak lama mobil minho pun tiba dirumah.
“Minho-ya coba liat ini siapa” ledek eommanya.

Jiyoung tertawa sedangkan sulli tersipu malu.
“untuk apa lagi kau kembali Ssul?” ucap minho sambil berjalan masuk ke rumahnya.
Jawaban minho pun membuat syok sulli.

“aku kembali untuk menepati janji minho-ya, mianhae” ucap sulli meminta maaf.

“Janji? Sudah lupakan saja soal itu” ucap minho seraya pergi masuk kedalam rumah.

Tak terasa rintik-rintik air meluncur melesat dari mata indah milik sulli, sulli syok dan kecewa atas perlakuan minho. Tapi disatu sisi dia juga menyadari dia juga bersalah telah melanggar janji itu, dengan berlinangan air mata dia pun pergi berlari hingga jiyoung mengejarnya.

“Sulli-ya gwenchana?” tanya jiyoung.
“Bocah itu memang benar-benar….” Omel jiyoung.

“Jiyoung-ah naega gwenchana, memang aku yang salah” jawab sulli lagi.

“Anni sulli-ya lihat saja besok akan aku buat minho mengakui semuanya” pikir jiyoung dalam hati.

“Kau memikirkan apa jiyoung-ah hingga tersenyum seperti itu? Kau memikirkan gebetanmu yah?” ucap sulli meledek jiyoung.
“Anni sulli-ya, kajja kita masuk sudah malam” ajak jiyoung lagi.

“Ne jiyoung-ah, gomawo sudah mau menjadi teman bahkan sahabat terbaikku” ucap sulli sambil merangkul jiyoung.

“Ne sulli-ya aku juga, gomawo kau sudah mau setia menjadi teman terbaikku selama ini” jawab jiyoung juga.

Keesokan harinya ~
“Jiyoung-ah benar kau tak bisa menemaniku?” tanya sulli lagi.

“Mianhae sulli-ya aku sibuk mengurus acara kampus, kau tak apa-apa sendiri kan?” ujar jiyoung.

“Ne tak apa-apa jiyoung-ah sukses ne buat acara kampusnya”

Sulli pun pergi meninggalkan rumah jiyoung dengan menggunakan taxi. Tak lama setelah sulli pergi jiyoung bergegas ke rumah minho.
“Minho-ya, minho-ya” panggil jiyoung cemas
“Ya wae jiyoung-ah? Kenapa kau?” tanya minho sambil mengucek-ucek matanya karena baru saja bangun dari tidur.

“Sulli Sulli….” ucapan jiyoung dipotong minho.
“Apapun yang kau bicarakan tentangnya aku tak peduli” jawab minho lantang
“Tapi minho-ya…” ucap jiyoung lagi
“Apapun itu” ucap minho denagan tatapan tajamnya.

Jiyoung pun tak gentar, masih saja dia berusaha untuk menyadarkan minho.
“Sulli, kembali ke amerika, pesawatnya berangkat pagi ini, dia sudah berangkat ke bandara, dia pergi karenamu minho-ya” cerita jiyoung sambil menangis mendramatisir
“Kau bercanda kan jiyoung-ah” ucap minho seolah tak percaya.

“Anni, aku tak bohong, kau coba cek saja ke bandara kalau kau masih PEDULI padanya” ucap jiyoung meyakinkan.

Dengan sekali gerakan cepat, minho segera mengambil kunci mobil hitamnya, tak peduli saat ini dia sudah mandi atau belum, tak peduli saat ini dia hanya menggunakan t-shirt dan celana pendek khas rumahan, dia bergegas menuju garasi rumahnya.

Usaha jiyoung memotivasi minho pun berhasil, saat ini mobil minho sudah terlihat pergi meninggalkan rumahnya menuju ke Incheon airport.
“Sulli-ya, please don’t leave me” ucap minho dalam hati.
Incheon Airport
Minho bergegas membuka pintu, berlari terbirit-birit menuju ruang tunggu keberangkatan ke NewYork, matanya dengan tatapan tajam mendelik setiap sudut diruangan ini, mencari sosok seorang yeoja yang saat ini tengah membawa dua buah koper ditangannya. Dengan cepat minho berlari menuju ke arah yeoja itu, sang yeoja yang tengah menunggu pun kaget karena dipeluk seseorang dari arah belakang, ingin rasanya segera menjerit namun terhenti tatkala orang yang memeluknya ini membicarakan suatu hal padanya.

“Sulli-ya, mianhae bukan maksudku berperilaku seperti ini padamu, hanya saja, hanya saja… aku tak ingin kehilangan dirimu, kau dulu pernah berjanji tak akan pergi dari sisiku tapi mengapa kau pergi meninggalkanku? Jujur perasaanku disaat itu sakit sekali rasanya ketika jiyoung mengabariku kau pergi ke amerika aku langsung berlari ke rumahmu berharap kau masih ada disana menungguku, tapi apa yang kulakukan hanya sia-sia sulli-ah. Kau pergi…kau pergi…. Aku tak mau kau pergi meninggalkanku lagi sulli-ah, jebaaaaaaal” ucap minho sambil terus memeluk erat sulli dari arah belakang, namun sulli berusaha untuk melepas pelukannya itu.
“Sulli-ya, PLEASE DON’T LEAVE ME, kau tahu mungkin bahkan kau tak mempercayainya, aku sampai saat ini masih  selalu membawa surat perpisahan darimu kemana pun aku pergi, berharap kau pasti akan kembali lagi kesini. Dan itu terbukti kau kembali lagi kesini, aku mohon jangan pergi”
“Arraseo” jawab sulli singkat
“Sulli-ah SARANGHAE….” Ucap minho sambil memutar balikan tubuh sulli sehingga kini berhadapan dengannya.
“NADO minho-ya” jawab sulli dihiasi dengan senyum bahagianya diikuti dengan senyuman minho.
“PLEASE DON’T LEAVE, aku tak akan membiarkanmu pergi lagi dari sisiku, cukup empat belas tahun aku menunggumu, janji?” ujar minho sambil memeluk sulli dengan erat
“Mianhae minho-ya…….” Sulli melepaskan pelukan minho.
“Wae sulli-ya? Aku mencintaimu dan kau pun sama mencintaiku, apa kau tak bisa merubah fikiranmu untuk tak jadi pergi meninggalkanku?” tanya minho dengan mengernyitkan kedua alisnya.

“Maksudmu siapa yang akan pergi? Aku?” tanya sulli dengan bingung.
“Anniya sulli-ya? Kau? Tidak pergi?” ucap minho sambil menggeleng-gelengkan kepalanya tanda tak percaya.
“Aku? Pergi?” tanya sulli lagi bingung.
“Ini kopermu” tunjuk minho pada kedua koper yang dibawa sulli.

“Koper? Ooooo…haaaa.. kau kira aku akan pergi karena aku membawa koper ini?” ucap sulli sambil mentertawai tingkah minho.
“Apa aku salah sulli-ah?” tanya minho dengan polosnya.

“BECAUSE LOVE IS SIMPLE, akui saja kalau memang saling cinta, sampai kapan mau dipendam terus? buang jauh-jauh semua egomu, kalau begini kan enak jadi berakhir bahagia” celetuk jiyoung yang muncul secara tiba-tiba.
 “Jiyoouung-aaaahh, jadi ini semua ulahmu” minho setengah berteriak.

“Kang jiyoung berani-beraninya kau berbohong padaku, katanya kau ada acara kampus, tapi kau malah ada disini mengerjai kami” ucap sulli sambil mencubit gepas pipi jiyoung sahabatnya.

“Yaaaaak, sulli kemarin aku sudah janji akan membuat minho mengakui semuanya hahahahaha” tawa joyoung meledak.
“Yak kau Choi Minho kemarin kenapa malah marah-marah saat sulli ke rumahmu? Aigoooo padahal aku tahu kau terlihat bahagia kan? Kau terlalu naïf untuk mengakuinya, kalau tak di setting seperti ini sampai kapan yak choi minho kau mau mengakui perasaanmu, berterima kasihlah padaku hahahaha”

Tak lama terdengar suara”pleetaaaak” yang berasal dari tangan kekar minho.

“Apoooo minho-ah, ini caramu berterima kasihkah? Yaaak namjamu memang aneh sulli-ah” ucap jiyoung yang diikuti gelak tawa dari minho dan sulli.

“Ada apa ribut-ribut?” tanya eomma sulli.
“yak ini minho? Kau sudah besar ne” ucap appa sulli.

Minho mengangguk pelan, mereka pun akhirnya pulang menuju rumah menggunakan mobil minho.
At Sulli’s House

“Eomma appa aku, minho, jiyoung pergi dulu ne” pamit sulli.

“Kalian mau pergi kemana?” tanya eomma sulli.

“Rumah pohon” jawab ketiganya serentak.
Ketiganya pergi meninggalkan kediaman sulli yang saat ini ramai karena menyambut kembalinya keluarga sulli dari amerika.

At Rumah Pohon ~
“Akhirnya sampai sini juga”
“Tempat ini masih tak berubah, padahal sudah empat belas tahun aku tak melihatnya suasananya pun masih sama, apa kalian masih suka datang kesini?” ucap sulli pada jiyoung dan minho.

“Aku sih iya hampir tiap hari aku datang kesini, kalau si eksekutif muda jarang sekali kesini” sindir jiyoung.

“Yak aku sibuk jiyoung-ah bukan aku tak mau kesini, sudah-sudah lebih baik kita buka kertas harapan itu otte?” tawar minho.

“Ne bukalah” ucap jiyoung dan sulli dengan harap-harap cemas
1…2…3…

”MINSUL FOREVER”   - Choi Minho.

“Aku hanya ingin kedua temanku ini dewasa kelak bisa selalu bersama” - Kang Jiyoung.

“MINSUL FOREVER”   - Choi Sulli.

“Bahkan kalian berdua menulis harapan yang sama? Apa ini yang dinamakan JODOH? Chukae-chuka-chukae” ucap jiyoung saking senangnya hingga kepalanya terantuk dahan pohon.

“Appooooooo” ucapnya kesakitan tetapi tingkahnya itu malah ditertawai oleh minho dan sulli.

“Kalian berdua masih sempat-sempatnya mentertawaiku haiiiisssss”

“Apa ini?” ucap jiyoung sambil mendelih kearah dahan pohon karena tangannya menemukan sesuatu.
“Aigooooo siapa yang menulis ini? Bahkan sampai didahan pohon saja kalian menulis kata-kata  “MINSUL FOREVER” kalian ini benar-benar” ucap jiyoung sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Dimana lagi aku menemukan kata-kata ini? Kalau aku menemukan satu kata ini lagi kita akan liburan ke nami island” ucap jiyoung lagi
“Jinjja jiyoung-ah? Kau serius” tanya minho
“Ne, memangnya ada lagi?” tanya jiyoung balik.

“Igoo, bacalah hahahaha” ucap minho sambil menyodorkan surat perpisahan yang dibuat sulli untuknya.

“Omoo kita akan pergi liburan ke nami island sulli-ah” ledek minho sehingga sulli pun ikut tertawa.

“Aigooo kalian berdua memang benar-benar, pantas saja aku tak boleh tahu isinya ternyata ini, yasudah besok kita berangkat ke nami island sebagai hadiah untuk kalian berdua, aku pun berharap akan menemukan jodoh disana hahahahaha” ucap jiyoung sambil tertawa.
Jiyoung pun akhirnya pergi meninggalkan kedua insan saling merindu ini ~
Minho’s POV
“Sulli-ya” panggilku pelan
“Ne wae?” jawab sulli
“Panggil aku oppa” pintaku
“Mwo? Shireo” ucap sulli pura-pura tidak mau.
“Wae? Aku ini kan namjamu” ungkapku pada sulli.

"Sejak kapan?” tanya sulli lagi.
“Sejak hari ini dan sampai saatnya berakhir” ucapku penuh.

“Maksudmu?” tanya sulli bingung
“Yak apa aku mau menjadi namjamu terus-terusan, aku juga tak mau” ucapku meledek sulli, sulli pun mendongak kesal.

“Anni, maksudku sampai statusku berubah menjadi suamimu, tak mungkin kan aku menjadi namjamu terus” ucapku meralat ucapanku tadi.

“Sulli-ya, menurutku BAHAGIA ITU SEDERHANA, CUKUP AKU DAN KAU MENJADI SATU KARENA AKU PERCAYA BERADA DISAMPINGMU MEMBUAT HIDUPKU SEMAKIN SEMPURNA”

“Gomawo sulli-ah, karena kau sudah mau berada disisiku selamanya” ucap minho disambut seulas senyuman manis sulli.
                                                              
    ~THE END ~


10 komentar:

  1. Sul itu kau, nama
    singkatmu dan Forever itu
    artinya untuk selamanya.
    Jadi artinya Minho dan
    Sulli untuk selamanya
    bagus wit. :-*

    BalasHapus
    Balasan
    1. akakaka gomawo dev :*
      ente jg lanjut lah itu mirrornya :p

      Hapus
  2. bayangin pas minho meluk sul dr belakang sambil ngungkapin perasaannya...
    romantiiiissss :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. bayanginnya kaya pas eps ttby ya :p
      ahaha gomawo udh baca chingu :D

      Hapus
  3. cia cie cia cie :v
    #berkoakkoak dah
    wakakkaka nice FFnya author!

    BalasHapus
  4. wah minsul bersatu wkwk bagus ffnya, minho minho kebanyakan makan gengsi sih :D buat sekuelnya dong thor._. hehe

    BalasHapus
  5. Cowo memang jaim ​ɪ̣̝̇ÿ̲̣̣̣̥Ω̶̣̣̥̇̊ ,Ћϱϱ \=D/ Ћϱϱ \=D/ Ћϱϱ  \=D/ minsul forever

    BalasHapus
  6. Manisnyaaaaaaaa{} lebih dari manis cerita ini

    BalasHapus

 
Choi Minho & Choi Sulli Couple FanFiction Blogger Template by Ipietoon Blogger Template